Ikatan Itu Indah (Bukan Musibah)

Posted January 26th, 2017 by Anna

wedding-background-images-12“Ma, menikah itu apa sih, Ma?”, demikian pertanyaan anak saya. Tanpa didahului perbincangan berkonteks pernikahan, anak yang hampir berusia 5 tahun itu tiba-tiba menanyakan tentang pernikahan. Dengan spontan saya menjawab, “Menikah itu artinya laki-laki dan perempuan saling cinta, saling sayang, terus mereka punya ikatan untuk membentuk keluarga”. Phew!! Dalam hati saya berharap tidak ada pertanyaan penyelidikan lebih lanjut. Saya sudah berupaya memilih kata-kata yang sederhana untuk anak seusianya. Anak saya diam saja. Entah mengerti atau tidak. Atau mungkin juga sudah mengantuk sehingga tidak mencecar dengan pertanyaan lebih lanjut seperti biasanya. Lalu, kami pun masuk mobil melanjutkan rencana kami.

Sambil mengemudi saya pun merenungkan jawaban spontan saya tadi. Jawaban spontan yang belum saya siapkan sebelumnya dan keluar begitu saja dari unconcious. Ada kata yang menarik yang saya lontarkan tadi, yaitu : ikatan. Ikatan seperti apa yang ada dalam pernikahan? Sejurus saya langsung mengingat homili yang disampaikan RP. Yohanes Wayan Marianta, SVD yang memberkati pernikahan saya dasa warsa silam. Inilah momen yang paling saya ingat tentang pernikahan saya. Homili diawali dengan sebuah cerita, singkatnya demikian…

Dikisahkan ada persahabatan antara kepiting dan bangau.
Suatu hari bangau ingin mengajak kepiting terbang. “Ayo kepiting, ikut aku terbang. Kamu akan melihat dunia yang indah dari atas sana. Kamu bisa melihat bukit berbunga, sungai yang berkelok, hamparan rumput yang hijau. Selama ini kamu hanya melihat air, air dan air disini. Saatnya kamu berjalan-jalan melihat dunia yang indah diluar sana. Ikutlah aku, aku akan mencengkerammu, kamu akan terbang bersamaku”.

Kepiting senang bukan kepayang dengan ajakan sahabatnya. Dia pun bersiap diri.
Bangau mencengkeram badan kepiting, kemudian terbang.
Baru beberapa saat setelah terbang, kepiting meronta, “Bangau, tolong jangan cengkeram aku terlalu keras. Aku kesakitan!”.
Rupanya bangau tidak mendengar kata-kata kepiting. Dia tetap mencengkeram kepiting dengan kuat. Sekali lagi kepiting berteriak, kali ini dengan suara yang lebih keras sambil menahan rasa sakit. “Aduuuh, badanku sakit semua. Bangau, tolong sedikit longgarkan cengkeramanmu ini!.”

Akhirnya bangau mendengar teriakan si kepiting. Namun terlambat.
Kepiting terlanjur meronta dengan kuat dan dia berhasil melepaskan diri dari cengkeraman bangau. Bruukkkk!!!
Hentakan yang kuat mengiringi jatuhnya kepiting ke daratan.
Bangau pun menukik ke bawah menghampiri kepiting yang menahan rasa sakit.
“Aduh, maafkan aku, kepiting. Aku tidak menyangka cengkeramanku membuatmu kesakitan. Aku hanya tidak ingin kamu terjatuh saat aku ajak terbang. Karena itu aku mencengkerammu dengan kuat.”

Sambil merintih kesakitan, kepiting berujar,”Kamu tidak perlu mencengkeram dengan terlalu kuat, itu malah membuatku sakit. Cengkeram aku dengan secukupnya saja, aku akan nyaman dan aku pun tidak meronta.
Dengan tenang dan suka hati aku akan ikut terbang bersamamu.”

Ya, seperti itulah gambaran ikatan dalam pernikahan. Diikat terlalu kuat, dengan mengekang kreativitas dan kehendak baik pasangan, tentulah tidak mengenakkan bagi pasangan kita. Melupakan dan melepas ikatan sesuka hati, tentu itu bukan pernikahan. Tetapi awal sebuah perpisahan.

Jika dengan kesadaran, visi bersama, dan niatan yang tulus kita berkomitmen dalam sebuah pernikahan, tentu dimana saja kita ingat dengan ikatan pernikahan. Ikatan yang masih membebaskan masing-masing pasangan melakukan passion, hobi, kebiasaan baik, dengan tetap mengingat tugas dan perannya sebagai seorang suami atau istri. Sebuah ikatan yang akan membuat kita bebas, tapi tahu batas dan bertanggung-jawab. Ikatan yang bisa dinikmati, karena suami istri saling mengingatkan bahwa ikatan itu indah, bukan sebuah musibah. Ikatan yang sekaligus memberi kesempatan pasangan untuk beraktualisasi diri dan berkreasi. Dan semuanya itu bisa di-dialog-kan dengan pasangan, supaya tidak menyakitkan hati di kemudian hari.

Apakah akan seideal itu kelanggengan sebuah ikatan dalam pernikahan? Bisa saja tidak. Bisa saja ada masa pasang surut. Ada kalanya terdengar suara yang  menggoda kita untuk sejenak melupakan, atau bahkan melepas ikatan pernikahan. Lalu, bagaimana kita mengingat kembali ingatan tersebut? Kita mengingatnya karena kita mengikat janji pernikahan di depan Tuhan. Jika Tuhan yang menjadi sandaran kita, tentu kita akan berpikir ulang untuk melepaskan atau mengencangkan ikatan kita.

Andai surat nikah sudah berada di tumpukan paling bawah dari arsip dokumen keluarga…
Andai foto dan video pernikahan sudah tersimpan rapi di gudang…
Andai cincin kawin sudah terlalu longgar atau terlalu sempit sehingga tidak lagi dilingkarkan di jari kita…

Ingatlah bahwa janji yang pernah terucap saat pemberkatan pernikahan adalah lebih bermakna dan sakral, daripada rayuan di masa pacaran…
Ingatlah bahwa kita pernah berjanji untuk setia dalam untung dan malang…
Untuk selalu menemani dikala duka dan suka datang
Karena mencintaimu adalah keputusanku

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>