Cukup Bagiku, Hadirmu

Posted June 11th, 2016 by Anna

StarfishSeorang pria duduk dengan mata menerawang. Tampak jelas penyesalan ada di wajahnya. Penyesalaan bercampur dengan kesedihan yang mendalam. Sesekali matanya berkaca-kaca saat ia bercerita. Sesekali pula dia berusaha menahan emosinya. Dalam sekali tarikan napas, dia berusaha menunjukkan ketegarannya. Setelah sedikit tenang, dia kembali melanjutkan ungkapan hatinya. Ya, dia seorang pria. Pria, suami, ayah, kepala rumah tangga yang sedang sedih dan berbagi beban pikirannya.

Pria ini merasa berselingkuh. Dengan segenap keberanian dia mengakui perbuatannya. Menyesali kesalahan adalah tahapan berikut yang harus dilewati ketika ia mengharapkan keadaan yang lebih baik dalam rumah tangganya. Bagaimana awal kisah perselingkuhan ini dimulai?

Semuanya berawal dari ketidakhadiran istri saat pria ini membutuhkan. Sewaktu  melepas penat setelah seharian bekerja. Sewaktu makan malam sembari ingin bercerita ringan tentang kejadian seharian. Sewaktu ingin ditemani menonton tivi setelah makan malam. Tapi, kemana pendamping hidupku? Oo… dia sedang asyik dengan kesibukan barunya di kamar. Sebagai suami yang ingin mendukung kesibukan baru istrinya, pria ini mencoba memahami. Happy wife, happy life, happy family. Demikian quote yang diyakini pria ini pada awalnya. Jika istri bisa menikmati aktivitasnya, maka istri akan bahagia. Efek yang diinginkan adalah keluarga yang bahagia. Bermula dari istri yang bahagia, maka bahagialah rumah tangganya.

Namun, ketika ketidakhadiran istri disisinya dialami selama beberapa bulan, timbullah kegerahan dalam hati pria ini. Beberapa kali pria ini mengajak istri berbicara. Mengungkapkan keinginan akan kehadiran istri disaat dia ingin ditemani. Namun jawaban : “sebentar lagi ya”,  “setelah ini ya”, “besok saja masih bisa”, dan sebagainya akhirnya membuat pria ini menghentikan usahanya. Dicarinya daftar kontak yang ada di HP-nya. Ada sebuah nama wanita yang sepertinya bisa diajak bicara. Dugaan pria ini tidak meleset. Wanita di daftar kontaknya itu menyambut ramah setiap kali pria ini mengajaknya bicara. Wanita ini selalu ada, meskipun terkadang hanya dalam bentuk balasan chatting di HP, saat pria ini memulai mengajaknya chatting. Dan demikianlah awal jatuh hati dengan wanita lain dimulai.

Dalam hidup berkeluarga, terkadang kita menyelepekan kehadiran kita bagi anggota keluarga lainnya. Namun ternyata kehadiran kita bisa sangat berarti.  Tidak perlu keahlian sebagai seorang pencerita untuk memecahkan suasana yang senyap. Tidak perlu berusaha keras memasang ekspresi seorang pendengar yang baik. Cukup dengan:

  • Hadir
  • Mendengarkan, dan
  • Memberi dukungan

Mendengarkan, bukan sekedar mendengar sambil sibuk dengan hal lain. Memberi dukungan bukan berarti meng-iya-kan hal yang salah. Namun, mengatakan “ya” ketika anggota keluarga kita benar. Dan mengatakan “tidak” ketika anggota keluarga kita salah.

Kita tidak pernah tahu, kenapa tiba-tiba saja suami kita ingin didengarkan. Kita tidak pernah tahu kenapa anak remaja kita ingin ditemani memilih hadiah untuk teman dekatnya. Kita tidak pernah tahu kenapa istri minta suaminya menemaninya ke sebuah komunitas. Dan kita terkadang tidak perlu tahu alasannya, karena alasan itu kadang sulit diungkapkan oleh mereka yang membutuhkan kita. Cukup kita hadir dan ada saat dibutuhkan.

Maka lirik lagu Cinta Putih, “cukup bagiku, hadirmu… membawa cinta selalu…” bisa menjadi pengingat kita ketika suatu saat anggota keluarga kita meminta kehadiran kita. Luangkan waktu untuk hadir dan ada. Jika kehadiran kita digantikan oleh yang lainnya, warnanya tentu akan beda. Dan cerita selanjutnya pun berbeda.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>