Mari Bicara

Posted April 5th, 2016 by Anna

DSC_7247edtDalam menjalin relasi, baik itu di organisasi, kelompok maupun keluarga, timbulnya masalah tidak dapat dihindari. Perbedaan pendapat, perbedaan karakter, salah persepsi, adalah sebagian dari sekian banyak alasan munculnya masalah interpersonal ini. Semakin banyak dan intens menjalin relasi, semakin banyak variasi masalah yang terjadi. Tidak berelasi pun menimbulkan masalah tersendiri bagi kita, bukan? Nah, ketika muncul masalah dalam bersosialisasi, mari kita bicara. Bicara dengan siapa saja ya?

Mari bicara dengan diri sendiri

Tanyakan kepada diri sendiri, apa yang salah dalam perkataan dan perbuatan saya. Bukan hanya ucapan lisan yang bisa menimbulkan salah persepsi. Bahkan intonasi pun sangat besar pengaruhnya dalam pesan yang diterima oleh lawan bicara kita.

Kalimat, “kok gini aja nggak bisa sih?” jika diucapkan dengan intonasi rendah dan lembut dan raut wajah ramah, akan bisa diterima dengan kepala dingin oleh lawan bicara kita. Tidak menimbulkan rasa jengkel berlebih meskipun maksud pesan tersebut adalah sebuah kritikan. Tetapi jika “kok gini aja nggak bisa sih?” diucapkan dengan intonasi tinggi, cepat, apalagi ditambah dengan raut wajah tidak ramah, pasti akan dipersepsi berbeda. Bisa jadi lawan bicara kita bukan hanya jengkel, hatinya pun langsung panas.

Demikian juga dengan ungkapan tertulis lewat bbm, wa, sms, messenger dan berbagai media chatting lainnya, sangat bisa diartikan berbeda seperti maksud kita. Salah menggunakan kalimat sambung dan tanda baca, artinya bisa berubah 180 derajat dari pesan sebenarnya.

Dengan bicara kepada diri sendiri, artinya kita merenungkan kembali perbuatan dan ucapan kita. Kalau tiba-tiba lawan bicara kita mendadak diam dan mengubah raut wajahnya, atau chatting via handphone mendadak terputus tanpa kata pamit, coba kita tilik lagi. Bisa jadi ada kata dan pesan kita yang salah dipersepsi oleh lawan bicara kita. Setelah dengan kepala dingin kita mengevaluasi diri kita sendiri, mari kita lanjutkan dengan…

Mari bicara dengan dia

Langkah selanjutnya ada memulai berkomunikasi dengan pihak yang bermasalah dengan kita. Kalau tidak ada yang berinisiatif untuk membahas masalah dalam berelasi, masing-masing pihak akan yakin dengan persepsinya sendiri. Ini juga akar masalah yang paling banyak terjadi dalam rumah tangga dan kelompok. Ternyata ada perasaan dan ungkapan hati yang tidak tersampaikan, dan akhirnya salah satu pihak memutuskan bermain dengan persepsinya sendiri.

Seorang suami belakangan ini di rumah lebih sibuk dengan laptopnya dan lebih sedikit bicara dengan istrinya. Si istri mulai bertanya-tanya dalam hati, “apa yang salah dengan saya ya? Sepertinya semua baik-baik saja. Saya sudah menyiapkan makanan, menyiapkan segala keperluan suami dengan baik, saya juga selalu menyambut suami denga ramah seperti biasanya. Jangan-jangan suamiku marah denganku… jangan-jangan suamiku sekarang punya wanita lain… jangan-jangan…”. Si istri sibuk bermain dengan persepsinya tanpa menanyakan secara langsung kepada suaminya. Lama-kelamaan si istri mencari teman curhat tentang sikap suaminya. Teman curhat yang lebih mengasyikkan ketimbang suaminya yang sekarang lebih pendiam. Istri memilih curhat dengan teman prianya. Dan lama-kelamaan si istri jatuh hati dengan teman curhatnya. Padahal si suami sebenarnya baik-baik saja. Dia hanya perlu waktu lebih banyak dengan laptopnya untuk menyelesaikan sebuah proyek baru di kantor.

Seandainya si istri berinisiatif menanyakan kepada suami tentang perubahan sikap yang terjadi, tentu saja babak baru dalam rumah tangga mereka tidak terjadi. Saya sering bertanya kepada pasangan yang bermasalah : apakah sudah bertanya atau menyampaikan perasaan Anda kepada pasangan? Kebanyakan mereka menjawab : belum. Mereka lebih memilih memutuskan masalah sendiri. Tahu sendiri kalau pasangan berubah sikap, pasti ada yang salah dengan saya, pasti dia punya teman dekat baru. Dan banyak kalimat pasti begini, pasti begitu lainnya, yang sama sekali tidak pernah pasti.

Mengajak bicara, bertanya dan mengungkapkan perasaan dengan orang lain penting dilakukan. Kalau kita hanya bermain dengan persepsi kita sendiri, bisa jadi kita terjebak dalam masalah baru. Tentu saja cara dan waktu kita berkomunikasi juga penting. Maka tepat sekali tagline “mari bicara” ini dipilih oleh sebuah iklan minuman teh. Apalagi dalam iklan itu ditampilkan background cerita seorang istri mengajak suaminya bicara dari hati ke hati. Berduaan saja. Dalam suasana yang santai.

Setelah kita bicara dengan dia, setelah kita mengungkapkan ganjalan hati kita, bisa jadi masalah masih tetap ada. Sangat mungkin timbul masalah baru setelah masing-masing mengungkapkan perasaannya, maka selanjutnya adalah…

Mari bicara dengan DIA

Mari kita bicara dengan DIA. Mari kita bawa masalah kita dalam doa. Ada kalanya masalah tidak bisa terselesaikan saat itu juga. Masing-masing pribadi butuh waktu untuk mengambil jeda dan introspeksi lebih lanjut. Saat itulah kita butuh teman curhat yang tepat. Kita butuh petunjuk dan kekuatan yang berasal dariNYA. Kita butuh dibukakan mata hati kita. Pihak yang sedang bermasalah dengan kita juga butuh didoakan. Penyelesaian masalah selalu terjadi dengan seijinNYA.

Seorang konseli pernah mengatakan kalau dia masih gagal berkomunikasi dengan pasangannya. Mereka masih sama-sama keras kepala kalau sudah saling bicara. Tapi konseli ini masih bisa bicara dengan DIA. Makin intens dia berdoa, dia makin merasakan kedamaian. Hatinya tidak sepanas dulu lagi. Betapa indahnya kekuatan sebuah doa.

Mari kita bicara!

(01-04-2016/an)

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>