Kisah Jeri dan Jera

Posted November 21st, 2014 by Anna

Kisah Jeri dan JeraDua anak jerapah, Jeri dan Jera, sedang berbincang di sebuah hutan. Mereka adalah anak-anak jerapah yang dilahirkan di sebuah hutan yang subur.

”Beruntung ya kita diciptakan dengan leher yang panjang seperti ini,” kata Jeri sambil makan dedaunan di dahan.

”Ah apanya yang beruntung?? Leher panjang begini malah bikin aku susah untuk minum. Air di danau ada di bawah, aku harus menundukkan leherku supaya bisa minum,” sahut Jera sedikit bersungut.

”Lho… kan cuma waktu minum saja kita perlu menunduk. Selain itu kita bebas kesana kemari sambil memakan daun-daun di dahan yang tinggi sekalipun. Banyak teman-teman kita yang kepingin punya leher panjang seperti kita. Apalagi akan ada musim kemarau. Daun-daun banyak yang gugur. Dengan leher kita yang panjang kita tetap bisa memakan daun-daun yang sulit dijangkau teman-teman kita,” kata Jeri sambil terheran dengan temannya yang tidak mensyukuri lehernya yang panjang.

”Pokoknya aku benci dengan leherku yang panjang ini. Aku ingin punya leher yang pendek saja!!”. Jera masih saja bersungut.

Meskipun berbeda pendapat Jeri dan Jera tetap bermain bersama. Mereka mulai tumbuh besar. Jeri terus menyari daun-daun yang tinggi untuk dimakan. Sedangkan Jera hanya mencari daun-daun yang pendek dan mudah dijangkau.

”Jera… mengapa kamu tidak memakan daun-daun yang tinggi? Ibuku bilang, kalau kita selalu mencari daun-daun yang tinggi lama-kelamaan leher kita semakin panjang lagi. Ini sangat menguntungkan kita waktu musim kemarau tiba nanti”. Jeri berusaha mengingatkan Jera untuk melatih otot-otot lehernya supaya lebih panjang lagi.

”Aaarggh… aku kan sudah pernah bilang Jeri, aku gak suka dengan leher panjang seperti ini!! Aku gak mau leherku bertambah panjang. Cukup segini aja sudah bikin aku susah!!” Jera mulai kesal dengan nasihat Jeri.

Hari berganti hari. Jeri bertumbuh menjadi jerapah muda yang lehernya semakin panjang. Demikianpun dengan Jera temannya. Seiring bertumbuhnya Jera, lehernya juga memanjang namun tidak sepanjang leher Jeri. Jera tetap saja asyik mencari daun dan buah yang pendek untuk dimakan. Sedangkan Jeri sebaliknya. Dia selalu berusaha mencapai daun dan buah yang tinggi untuk dimakan.

Musim kemarau pun tiba. Daun-daun mulai kering yang berguguran. Yang tersisa hanyalah pucuk daun muda yang barusan tumbuh di musim hujan kemarin. Jera mulai kesulitan mencapai pucuk daun yang tinggi. Sebaliknya, Jeri tetap leluasa mencapai pucuk daun karena lehernya yang lebih panjang daripada Jera. Jera mula menyesal karena dia membenci bentuk lehernya yang panjang sedari dia lahir.

”Benar yang kamu bilang ya Jeri. Ternyata aku harus mensyukuri bentuk leherku seperti ini. Aku memang diciptkan dengan leher yang panjang untuk suatu tujuan. Aku sekarang menyesal. Sewaktu muda aku tidak melatih leherku untuk mencapai daun dan buah yang tinggi. Leherku sekarang tidak sepanjang lehermu. Kamu bisa leluasa memakan pucuk-pucuk daun. Sedangkan aku hanya bisa memakan daun dan buah yang semakin berkurang di musim kemarau ini. Seharusnya aku bisa bersyukur dan melatih kelebihan yang aku miliki…..”. Jera menyesali perbuatannya dan sikapnya yang tidak pernah bersyukur.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>