Sebelum Marah…

Posted June 24th, 2014 by Anna

marahSiang itu sebelum menyelesaikan makan siangnya, Dearson mengambil crayon. Awalnya dia mencorat-coret crayon di kertas putih. Sreeett…. crayon tergores sampai keluar batas kertas dan mencoret lantai berwarna putih. Lantaipun ada coretan berwarna hijau. Ahaa…bagus juga nih lantai bisa dicorat-coret, mungkin seperti itu yang ada dalam pikiran Dearson, yang membuat wajahnya tampak sumringah.

Saya memperhatikan aktivitas Dearson dan sempat menegurnya, ”Kalau mau corat coret pakai crayon di kertas ya, jangan di lantai”. Salah juga nih teguran saya, karena kata ’jangan’ yang saya pakai justru membuat Dearson makin asyik bereksperimen di lantai dengan crayonnya. Saya pikir gak apa-apa deh sesekali mencoret-coret lantai, toh gampang dibersihkan. Dibandingkan corat-coret di dinding kan susah hilangnya. Sesekali eksplorasi anak harus dibiarkan ’bebas’ dan sedikit out of box, karena dari situlah anak banyak belajar.

Rupanya Dearson tidak puas hanya mencorat-coret lantai ruang tamu, diapun melanjutkan coretannya sampai di lantai teras depan rumah. Lantai teras yang berwarna merah dengan coretan crayon hijau tampak lebih meriah. Saya melihat keasyikan Dearson, kali ini tidak saya tegur, tapi saya ingatkan. ” Nanti dibersihkan lho kalau sudah selesai corat-coretnya”.

Lantai teras sudah cukup penuh dengan coretan crayon hijau. Dearson bergerak mendekati mobil yang terparkir di car-port. Satu kali coretan di mobil berwarna silver. Sreeet…. ”Ini boleh Ma?” Dearson meminta ijin, tapi sepertinya tidak akan memperhatikan jawaban mamanya. Dia membuat garis tanpa putus bukan hanya di pintu mobil, tapi di sekeliling mobil. Tidak hanya 1 kali coretan mengelilingi mobil, bahkan diulang sampai 3 kali mengelilingi mobil dengan tangan kiri memegang crayon hijau.

Tentu sebagian orang bertanya-tanya, kok saya memberbolehkan anaknya mencorat-coret mobil dengan crayon? Tentu tidak sedikit orang tua yang langsung membentak, bahkan tidak jarang yang langsung memarahi dan memukul tangan anaknya yang ’usil’. Kok diijinkan sih anaknya mencoret mobil? Nanti jadi kebiasaan lho… nanti anak terbiasa berbuat sesukanya tanpa aturan dan batasan. Nanti begini… nanti begitu. Jangan salah, saya juga sempat kesal sesaat waktu melihat crayon beraksi di body mobil. Namun ada sesuatu yang mengingatkan saya dan membuat hati saya melunak dan membiarkan aksi Dearson yang out of box ini. Apakah itu?

Anda pernah membaca atau mendengar cerita tentang seorang anak yang membuat goresan di mobil ayahnya, dan kisahnya berujung dengan hilangnya tangan si anak? Cerita ini sempat mudah ditemui di beberapa blog atau website beberapa waktu yang lalu. Cerita singkatnya begini.  Seorang anak bernama Ita ditinggal orang tuanya bekerja dan hanya tinggal berdua dengan pembantu yang sedang sibuk menyelesaikan pekerjaannya. Ita semula asyik bermain-main di teras rumahnya. Kemudian ia melihat paku berkarat dan mulai mencoret coret lantai teras dengan paku berkarat tersebut. Karena lantai terbuat dari marmer coretannya tidak terlihat, akhirnya ia mencoret mobil. Mobil yang berwarna hitam membuat coretannya semakin jelas. Ita pun mulai menggambar ayah, ibu, dirinya, boneka dan banyak gambar lainnya. Ketika ayahnya pulang dari bekerja, terkejutlah ia melihat mobilnya penuh dengan gambar. Dengan marah ia menanyakan siapa yang melakukan aksi luar biasa itu.  Dengan riang Ita menceritakan kepada ayahnya kalau ia yang melakukannya. Ayah ini  menjadi sangat marah. Diambilnya ranting kayu dan dipukulinya tangan kanan Iya. Tidak puas hanya dengan memukul tangan kanan, tangan kiri pun menjadi sasaran kemarahan ayah. Tangan Iya yang memar membuat anaknya sampai demam. Ayahnya yang masih menyimpan amarah dengan kelakuan anaknya, tidak mempedulikan kondisi Ita. Ita bahkan dibiarkan tidur dengan pembantunya sebagai bentuk pelajaran buat si anak.  Pembantu rumah tangga yang melaporkan kondisi anaknya yang semakin demam dan tanganya yang bertambah bengkak dan mengeluarkan nanah. Dengan kondisi yang sudah demikian parah, akhirnya sang ayah membawa anaknya ke rumah sakit. Kondisi tangan Iya yang sudah penuh nanah tidak tertolong lagi, satu-satunya jalan adalah memotong tangan anak. Dengan berat hati orang tua pun menyetujui dokter untuk memotong tangan anaknya. Setelah Ita siuman dari operasinya dan melihat kedua tangannya terpotong, Ita pun menangis sekerasnya. Dengan penuh penyesalan Ita meminta maaf kepada ayahnya. Ia berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya mencorat coret mobil ayahnya. Ia sangat sayang ayahnya. “Papa.. kembalikan tangan Ita. Untuk apa diambil.. Ita janji nggak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Ita mau makan nanti? Bagaimana Ita mau bermain nanti? Ita janji tdk akan mencoret-coret mobil lagi,” katanya berulang-ulang.

Ya… cerita itulah yang tiba-tiba saya ingat waktu Dearson mencoret mobil yang biasanya membawanya bepergian. Tentu saya tidak mau menjadi sang ayah dalam kisah itu. Saya tidak mau anak saya kehilangan tangan karena coretan yang ia buat di mobil. Lebih dari itu, saya tidak mau anak saya kehilangan eksplorasi dan spontanitasnya. Coretan di mobil masih bisa dihilangkan, namun anak saya mendapatkan pengalaman baru, hasil spontanitasnya, buah dari AHA eksperimennya. Tentunya tetap harus diingatkan, mobil sebenarnya bukan media untuk mencorat-coret. Dan sampai sekarang pun Dearson tidak pernah lagi mencorat-coret mobil.

Tentunya ada banyak pengingat atau kisah yang menginspirasi ketika kita hendak meluapkan emosi marah kita. Jangan biarkan marah kita mengakibatkan kejadian yang membuat kita menyesal sepanjang usia kita. Meluapkan emosi marah kelihatannya melegakan hati kita, karena membuat orang yang kita marahi menjadi takut atau menyesal dengan perbuatanya. Namun yuk kita simak, apa pesan yang disampaikan dari peristiwa yang membuat kita marah? Setuju kan kalau ada pesan dan makna dibalik sebuah peristiwa?

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>