“Bu, saya dihipnotis lagi dong…”.

Demikian yang diucapkan salah satu peserta training, sewaktu saya mengakhiri sebuah sesi training di Pacet, Mojokerto. Kalimat ini menjadi kalimat yang sangat saya ingat, ketika saya melakukan sesi training terakhir di bulan Desember, sekaligus training terakhir menutup tahun 2009 kemarin. 

 

Sebagian dari kita mungkin heran dengan kalimat tersebut. Sebagian lagi menganggapnya hal yang lumrah. Tapi bagi sebagian orang yang masih menganggap hipnotis dengan kesan yang buruk atau hanya merugikan pihak tertentu, jelas-jelas kalimat diatas bikin kita mencibir, ”…iiih kok mau sih dihipnotis?”

Lho, terus kenapa ya peserta tersebut meminta saya untuk menghipnotisnya?

 

Ada kata Hipnotis, ada juga Hipnosis. Sebelumnya, yuk kita clear-kan dulu, apa itu hipnotis dan hipnosis. Biar gak salah persepsi nih.

 

Dari beberapa sumber, penjelasan yang menurut saya paling mudah dijelaskan kembali ada di buku Hypnoparenting karangan Ariesandi Setyono. Dalam buku ini dijelaskan apa perbedaan hipnotis dan hipnosis.

Hipnotis adalah keadaan dimana proses hipnosis dilakukan. Hipnotis berarti membuat  atau menyebabkan seseorang berada dalam keadaan hipnosis.

Sedangkan hipnosis adalah proses penurunan kondisi kesadaran. Hipnosis adalah kondisi yang kita alami setiap hari, minimal dua kali, yaitu ketika kita akan tidur dan sewaktu akan bangun dari tidur. Hipnosis itu alamiah kok. Setiap orang mengalaminya. Kondisi hipnosis dicapai saat gelombang otak berada di kisaran alpha dan tetha.

 

Wah, apa pula ini ya? Kok ada gelombang otak segala! Lewat alat EEG (electroencephalograph), diketahui ada 4 frekuensi otak manusia, yaitu Beta, Alpha, Theta dan Delta. Penjelasan detilnya cari di internet ya, atau baca buku-buku yang di judulnya ada unsur kata Hipnotis atau Hipnoterapi.

 

Balik lagi ke topik hipnosis. Hipnosis sebenarnya seni komunikasi yang mengarahkan seseorang menuju suatu kondisi relaksasi, sehingga gelombang otak sedikit demi sedikit turun dan dijaga pada kondisi gelombang alpha dan theta. Ketika hipnosis sudah tercapai, kita akan menjadi rileks secara mental dan perlahan-lahan perhatian dan konsentrasinya menjadi terfokus. Pada saat inilah kita hanya memperhatikan satu stimulus saja. Sugesti atau kata-kata yang diberikan dalam kondisi seperti ini akan langsung direspon dan dijalankan oleh tubuh fisik, selama sugesti tersebut tidak bertentangan dengan nilai (value) yang dipegang.

 

Balik yuk ke kalimat paling atas tadi. Yang saya lakukan sehingga muncul kalimat diatas adalah sesi relaksasi, mengistirahatkan fisik dan membuat pikiran menjadi rileks. Dan saat pikiran rileks dan terfokus, tugas yang paling penting adalah memberikan sugesti yang positif dan membangun. Sugesti bisa datang dari si trainer, atau minta setiap peserta membuat kata-kata positif buat dirinya sendiri, sesuai dengan kondisi yang ingin dituju. Ya, hanya itu. Saya sedang tidak membawakan topik hipnosis sewaktu training ini di Pacet kemarin. Bahkan kata hipnosis juga tidak terlontar dari pembicaraan saya. Kondisi ketika peserta training berada di tempat ’kedamaian’ dan merasakan rasa tenang dan sangat rileks, sambil menginternalisasi sugesti positif itulah peak condition yang membuat peserta sangat nyaman. Jadi, gak salah kan kalau peserta training minta dihipnotis lagi? Hehehee.

 

Above all, dari sesi training ini saya bersyukur karena peserta memaknai kata hipnotis dengan tepat dan berkesan positif. Sebab kalau tidak berkesan positif, pasti si peserta training tidak minta dihipnotis kan? Eh salah! Yang terjadi kan sesi relaksasi dan prosesnya menggunakan hipnotis J 

 

My big thanks for participant on training PT. ES. It was so unforgetable training session in the end of 2009.