“Awalnya saya nggak suka mancing, Mbak”

Demikian awal dari percakapan dengan seorang Bapak yang sedang menunggui hasil tangkapan ikan bandeng. Siang itu, saya berada di kawasan pemancingan di kawasan Sedati, Sidoarjo.

Si Bapak lalu melanjutkan ceritanya.

“Saya melihat orang sering mancing dekat rumah saya yang dulu. Saya pikir ngapain sih, kayak nggak ada kerjaan aja tuh mancing. Tapi lama-kelamaan saya penasaran juga dan mencoba mancing. Ternyata seru juga. Sekarang anak saya juga ikutan suka mancing.”

 

“Bapak sering ke tempat ini ya?”, karena si Bapak antuasias untuk bercerita, saya jadi ikutan antusias menanggapi.

“Ya baru-baru aja kok. Awalnya diajak teman. Tapi mancing bandeng itu memang paling seru, Mbak.”

“Oya? Serunya gimana sih Pak?”

“Gini, kalau mancing ikan-ikan yang lain, seperti gurami apalagi lele itu gampang banget. Ikannya jarang ngelawan. Nah, beda dengan bandeng. Ikan bandeng kalau sudah menyangkut di kail lalu kita tarik pancingnya, dia akan berontak. Disinilah seninya. Kalau kita tidak cekatan, bandengnya bisa lepas. Memang ada seninya kalau mancing bandeng.”

“Ooh gitu ya Pak, pantesan tadi saya liat ada yang ikan-ikan bandeng yang lepas lagi sewaktu pancingnya ditarik.”

“Ya begitulah. Namanya juga seni memancing bandeng.”

 

Hmmm…. seni memancing bandeng versi Bapak tadi yaitu ketika ikan bandengnya berontak dan si pemancing harus cekatan bertindak supaya bandengnya tidak terlepas. Dibutuhkan kecekatan, kewaspaan dan kecepatan supaya setiap saat bandeng terkena mata kail, kita telah siap dan bandeng tidak terlepas dari pancing. Justru ketika ikan yang kita tangkap itu tidak memberontak dan tidak berusaha melepaskan diri, tidak lagi ada nilai seninya.

 

Kalau seni memancing versi Bapak tadi kita analogikan dalam situasi berikut:

-          menghadapi bawahan yang tricky

-          menemui karyawan yang menentang kebijakan dan aturan

-          memanajemeni tim yang tidak kompak dan saling serang

-          menghadapi kelompok yang memberontak dan menyerang kita

atau berbagai situasi serupa, apakah kita menganggapnya sebagai sebuah seni?

Disebut seni karena butuh keuletan, kecakapan dan ketrampilan kita untuk menghadapinya dan mengelolanya dengan baik dan mencapai tujuan yang kita inginkan. Sampai di tingkat tertentu ketika kita antusias menghadapi situasi-situasi diatas, mungkin kita bisa menganggapnya sebuah seni. Tapi bagaimana ketika segala daya upaya sudah kita lakukan, tapi belum juga nampak tanda-tanda keberhasilan.

 

Salah satu presuposisi mengatakan: If what you are doing is not working, do something different. So,… sepertinya disinilah letak seninya ya??