Kemarin, sepulang dari survey sebuah lokasi training center di Kabupaten Jombang, searah dalam perjalanan pulang, saya mampir ke sebuah hipermarket. Seusai membeli beberapa barang yang sebenarnya tidaklah terlalu urgent, di depan hipermarket saya melihat-lihat beberapa stand penjual penganan. Di ujung deretan stand penjual, ada sebuah stand bakpia pathok, penganan khas Jogja yang juga penganan favorit saya. “Ah, daripada pergi ke Jogja atau menunggu oleh-oleh rekan yang datang dari Jogja, gak ada salahnya nih mencoba beli disini, kali aja rasanya seenak yang di Jogja”, demikian yang melintas di pikiran saya dan akhirnya membuat saya memutuskan untuk membelinya. Nah, dari proses membeli bakpia pathok inilah cerita sederhana yang menginspirasi itu datang.

 

“Berapa Mas harga bakpianya?”

“Satu kotak 19 ribu, Mbak, isinya 20 biji bisa campur 3 rasa”

“Rasa apa saja?”

“Ada rasa kacang ijo, coklat dan keju”

“Ya udah beli 1 kotak ya, isinya campur”

Si Mas penjual bakpia yang ramah pun langsung mengambil kotak dan mulai mengambil bakpia satu per satu dimasukkan ke dalam kotak”

 

Eiitt…dalam hati saya berpikir, gimana ya rasa bakpia isi coklat dan keju? Karena bakpia pathok aslinya rasa kacang ijo, jadi kalau ada varian rasa lain mesti dicoba dulu, supaya rasanya tidak jauh dari harapan. Bisa jadi rasa coklat atau rasa ‘mirip coklat’ atau rasa ‘jauh dari coklat’.

 

“Mas, nyobain 1 yang rasa coklat, boleh? Pingin tau gimana rasa coklatnya”

“Lho Mbak, gak puasa ya??”

“Nggak kok”

Dan si penjual bakpia itu memberikan 1 buah bakpia rasa coklat untuk saya coba.

 

Pertanyaan terakhir dari penjual bakpia itu membuat pengalaman “Ahaa…” di benak saya.  Betapa tidak, dengan ketulusan hati si penjual bakpia itu mengingatkan pembelinya kalau hari itu adalah hari puasa. Apalagi di siang hari yang terik yang juga hari pertama puasa, bisa jadi pembelinya lupa dengan ibadah puasanya dan kemudian membatalkan puasanya dengan aktivitas makan yang tidak sengaja. Terlepas dari apakah pembelinya itu sedang berpuasa atau memang mereka yang tidak menjalankan ibadah puasa, tapi mulia sekali reminder yang diucapkan si penjual bakpia itu. Ia mengingatkan saya semangat untuk saling mengingatkan.

 

Bagaimana dengan kita? Saya dan Anda. Saling mengingatkan-kah kita?

Apakah kita melihat dulu “siapa” yang akan kita ingatkan?

Ataukah kita bisa mengingatkan siapa saja dengan ketulusan, tanpa melihat apakah dia teman atau lawan, apakah dia berniat baik atau buruk terhadap kita?

Apakah kita mengingatkan hanya untuk mencari ‘tanda jasa’ dan kemudian dengan bangga mengatakan “nah, itu kan berkat saya yang mengingatkan?”, “untung kan saya ingatkan, coba kalau nggak…??”

Ataukah kita mengingatkan, dengan satu tujuan, yaitu mengingatkan agar orang lain tidak jatuh, tidak celaka, tidak mengalami hal/kejadian buruk. Dan tentunya semua dilakukan dengan ketulusan, hanya berdasarkan tujuan baik kita.

 

Betapa indahnya jika kita bisa saling mengingatkan, dengan ketulusan, dengan cara dan waktu yang tepat, sehingga siapa saja bisa terbantu dengan peringatan yang kita berikan.

 

Kemudian, rasa bakpia pathok itupun menjadi semakin nikmat,  karena ada pelajaran tentang ketulusan untuk saling mengingatkan dari si penjual bakpia disana. Dan ini terjadi persis di hari pertama puasa bulan Ramadhan. Selamat menjalankan ibadah puasa bagi rekan-rekan yang menjalankan.