Are those your eyes, is that your smile

I’ve been looking at you forever

But I never saw you before

Are these your hands holding mine

Now I wonder how I could of been so blind

 

For the first time I am looking in your eyes

For the first time I’m seein’ who you are

I can’t believe how much I see

When you’re looking back at me

………

 

Cuplikan lagu yang pernah dinyanyikan Rod Steward diatas berjudul For The First Time. Keseluruhan lirik lagu ini sangat indah. Pesan yang ingin disampaikan lewat lagu ini diantaranya keajaiban yang dirasakan oleh orang yang ketika untuk pertama kalinya melihat siapa pujaan hatinya yang sesungguhnya.

 

Tidak jauh dari makna lagu diatas, kata “pertama kali” pasti ada dalam keseharian kita. Selalu ada pengalaman pertama, the first time, yang mendahului pengalaman atau kejadian berikutnya. Banyak pengalaman yang sangat berkesan ketika pertama kali sesuatu dilakukan,  dilihat, didengar atau dirasakan. Pengalaman pertama sangat menentukan langkah kita berikutnya. Pengalaman pertama yang baik dan positif akan membuat kita termotivasi untuk melakukan pengalaman kedua, ketiga dan seterusnya. Sebaliknya, pengalaman pertama yang kurang baik dan bernilai negatif, bisa membuat kita takut bahkan trauma untuk melakukan dan mengalaminya kali kedua.

 

Seorang rekan di Jakarta dalam pesan singkatnya, menuliskan : But remember, there’s always the first time. Dia menuliskan sms-nya untuk memotivasi saya melakukan sesuatu yang baru, yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Di tengah keraguan untuk melakukan tantangan dan pengalaman yang baru, kata-kata tersebut sangat mengingatkan saya. Dan akhirnya saya benar-benar mau melakukan pengalaman baru dan sekaligus tantangan baru. Dan hasilnya telah mematahkan asumsi saya sebelumnya. Ternyata saya bisa melakukannya.

 

Ya, sejatinya tidak pernah ada sebuah kesimpulan atau penilaian kalau kita tidak melakukannya. Mengatakan, “Aaah, mana mungkin saya bisa??”, “Ini mustahil…tidak mungkin terjadi”, “Percuma, buat apa dilakukan, kemampuan kita saja hanya segini kok”, “Tidak usah dicoba, pasti tidak bisa, sumber dayanya aja terbatas”, “Mana mungkin berhasil, kita belum pernah melakukannya kok”, dan masih banyak lagi limiting belief yang biasanya mendominasi kita untuk mematikan langkah pertama kita. Dan jika limiting belief ini dibiarkan hadir dalam pikiran kita, potensi dan sumber daya yang sebenarnya sudah ada akan surut dengan sendirinya. Semua terjadi karena pikiran dan tubuh adalah satu sistem tunggal, mind and body is one single system. Pikiran dan tubuh saling mempengaruhi. Yang ada di pikiran kita, itulah yang akan menggerakan tubuh kita dan otomatis menggerakkan keseluruhan potensi dan sumber daya dalam diri kita.

 

Jadi, jika kita ingat bahwa selalu ada first time dalam hidup kita, tentu kita tidak memilih untuk mematikan langkah kita untuk memulai melakukan yang pertama kali bukan? Apakah itu tantangan baru, pekerjaan baru, peluang baru atau kesempatan yang baru. Semua baru bisa kita simpulkan setelah kita melewati first time kita.

 

“People have all the resources they need to achieve their desired outcome. Manusia sudah punya semua sumber daya yang diperlukan untuk meraih hasil yang diinginkan”. Lewatilah first time kita dengan penuh keyakinan, kemantapan dan disertai harapan yang baik, dan lihatlah bagaimana first time itu membuat kita semakin bisa memahami siapa diri kita yang sesungguhnya dan potensi apa yang sudah tersedia dalam diri kita.