Siang itu seorang teman menceritakan perjalanannya dengan menggunakan pesawat terbang. Bercerita soal perjalanan dengan pesawat terbang, jadi mengingatkan saya dengan pengalaman sederhana yang menginspirasi. Kejadian yang saya alami beberapa bulan yang lalu, sewaktu perjalanan dari Jakarta menuju Lampung.

 

Pagi jam 9 di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, saya beserta 2 rekan kerja lainnya sedang menunggu pesawat yang akan membawa kami ke Bandar Lampung. Karena alasan yang tidak terlalu jelas, pesawat tertunda setengah jam. Penumpang yang sudah duduk dengan rapi di ruang tunggu mulai merenggangkan posisi duduknya setelah pengumuman keterlambatan. Hampir setengah jam tidak juga ada tanda-tanda pesawat siap berangkat. Dan sesaat kemudian terdengar pengumuman pesawat ditunda lagi 15 menit.

 

“Pfrrrrr…”, “Waaaah….”, “Fiiiuuuh….”, “Duh, gimana sih??…” dan beberapa komentar serta gumaman lainnya mulai terdengar dari para  penumpang pesawat. Tidak sampai 15 menit kemudian, akhirnya yang dinanti pun segera tiba. Petugas bandara mengatakan bahwa pesawat menuju Bandar Lampung sudah siap untuk diberangkatkan.

 

Satu per satu penumpang masuk ke dalam pesawat dengan antusias. Termasuk saya dan 2 rekan lainnya. Bagi saya, perjalanan ke Bandar Lampung in adalah yang pertama kalinya. Tentu membuat rasa ingin tahu saya menjadi tinggi. Dan tentunya membuat saya ingin segera menginjakkan kaki di provinsi paling selatan dari pulau Sumatera itu.

 

Para penumpang sudah duduk rapi dan mengenakan safety belt-nya bahkan sebelum dua orang pramugari mendemontrasikan cara penggunakan alat-alat keselamatan di pesawat. Selang beberapa saat, terdengar suara mesin pesawat mulai dinyalakan dan terdengar announcement bahwa sebentar lagi pesawat akan take off.  Satu menit… dua menit.. Namun pesawat belum juga take off.  Para penumpang mulai berbisik-bisik, “Ada apa ini kok gak segera take off??”

 

Tiga menit berlalu. Mesin pesawat mulai dimatikan dan pramugari mengumumkan bahwa ada kerusakan di salah satu komponen mesin dan para penumpang diminta keluar dan menunggu di ruang tunggu Bandara seperti pada waktu awal, sampai kerusakan berhasil ditangani dan pesawat siap untuk beroperasional.

 

Para penumpang mulai berdiri dan mengemasi barang-barangnya yang tadi sudah di kabin tempat duduk masing-masing. “Ada apa sih ini?? Tadi pesawat sudah delay, eeh sampai di pesawat ternyata masih ada yang rusak dan sekarang kita diminta turun lagi,” salah satu penumpang mulai jengkel dan bicara dengan kerasnya. Penumpang lain menimpali. “Apa-apaan nih, bikin takut saja. Kalau pesawat belum siap berangkat lha kita jangan disuruh naik dong. Mending diperbaiki sampai tuntas baru kita diminta naik”. Para penumpang yang tiba-tiba menjadi akrab satu sama lain saling bersahut-sahutan memberikan kritik dan mengungkapkan kejengkelannya.

 

Tiba-tiba, seorang Bapak berkata, ”Mending lho kita disuruh turun sekarang, mumpung lagi di darat. Coba kalau disuruh turun waktu kita sudah di atas, gimana coba?”. Aha! Ini dia komentar yang beda! Spontan saya tertarik untuk melihat reaksi penumpang lain atas komentar barusan. Hmmm… para penumpang yang tadinya bersungut-sungut dan berekspresi jengkel, tiba-tiba saja mengendurkan kerutan di wajahnya. Beberapa penumpang mulai tersipu-sipu, meskipun sisa kejengkelan belum terhapus seluruhnya. Para penumpang pun menghentikan omelannya dan mulai turun satu per satu melalui tangga pesawat.

 

Ya, begitulah yang terjadi dalam kehidupan kita. Tidaklah selalu diperlukan nasihat yang rumit, kata-kata petuah yang sulit, atau teguran yang keras, untuk dapat mengubah point of view kita agar menjadi lebih dewasa, lebih tenang dan lebih bijak dalam melihat suatu masalah. Satu nasihat yang sederhana, satu kalimat pengingat yang mudah dicerna, satu celetukan yang bermakna atau bahkan satu komentar “nakal” namun inspiratif bisa mengubah dunia yang terlihat di depan kita. Sederhana saja dan nampak biasa, namun dampak yang diakibatkannya sungguh luar biasa. Itulah dia, satu yang membuat beda.