Inspire people to succeed
Dibeli kondisi mati/rusak, harga pantas.
AC ½ – 1 PK Rp 250.000,-
AC 1½ – 2 PK Rp 300.000,-
Lemari Es Standar Rp 100.000,-
Lemari Es Besar Rp 150.000,-
Freezer Standar Rp 100.000,-
Freezer Box Rp 150.000,-
Mesin Cuci Putaran Bawah Rp 100.000,-
Mesin Cuci Putaran Samping Rp 150.000,
Monitor Standar Rp 50.000,-
Monitor Layar Datar Rp 75.000,-
CPU Pentium 1-4 Rp 50-200.000,-
Komputer Pentium 1-4 Rp 100-300.000,-
Printer Rp 25-100.000,-
….
….
(dll)
Hubungi : UD ”ABC”, Jl. ”DEF” no. ”GHI”, Telp. 7712xxxx Surabaya. Ambil di tempat.
Tulisan diatas adalah isi salah satu brosur salah satu usaha jual beli barang rusak atau barang bekas. Dengan harga yang tercantum seperti di brosur tersebut, itulah harga ketika saya menjual printer dengan merek premium di kelasnya. Printer yang juga memiliki fungsi sebagai scanner, copier, yang sewaktu dibeli masih diharga diatas dua jutaan rupiah beberapa tahun yang lalu, salah satu komponennya rusak. Untuk membeli komponennya, harganya bahkan lebih mahal dengan printer baru dengan merk yang terbilang ”standar quality” saat ini. Belum lagi karena printer jenis tersebut sudah tidak diproduksi lagi, komponennya harus dipesan terlebih dahulu karena tidak dalam posisi ready stock. Dan karena sudah tidak diproduksi, tidak bisa dipastikan kapan pesanan komponen tersebut diproduksi. Bisa saja tahun depan baru diproduksi.
Setelah memperhitungkan waktu, biaya, nilai manfaat dan nilai pakai, akhirnya saya memutuskan untuk menjual printer tersebut, Dengan kesepakatan harga yang membuat hati miris, sejumlah uang ditukar dengan pritner multifungsi tersebut.
Hmm…. begitulah harga jual kembali sebuah barang yang telah rusak. Nilainya bisa menjadi hanya sekian persen dari harga ketika barang tersebut pertama kali dijual dalam kondisi masih baru keluaran pabrik. Barang yang telah rusak tersebut, ada yang bisa diperbaiki kembali dengan segala cara, atau yang semula sudah banyak karat dan goresan disana sini, tiba-tiba disulap menjadi hampir sama seperti baru. Meskipun hasilnya tidak sesempurna barang yang baru, toh masih ada konsumen untuk barang jenis tersebut.
Harga sebuah barang yang semula rusak dan kemudian diperbaiki untuk dijual kembali sangatlah rendah dan tidak akan mencapai harga awal barang tersebut ketika dijual dalam kondisi gres. Namun tidak demikian dengan kita manusia. Manusia yang bisa bangkit kembali setelah mengalami keterpurukan, mereka yang bisa mengubah putus asa menjadi semangat juang dan mereka yang tidak mau dikucilkan sementara orang lain menilainya dengan rendah, malah memiliki nilai yang jauh lebih tinggi ketimbang mereka yang sepanjang hidupnya “biasa-biasa saja”.
Simak saja beberapa tayangan di Kick Andy. Mereka yang mantan pecandu obat-obat terlarang dan sekarang memiliki prestasi. Mereka yang bertubuh mini namun memiliki semangat juang yang maksi. Mereka yang sempat tidak berdaya karena penyakit kanker dan penyakit yang mematikan namun berhasil melewati segala vonis yang menakutkan. Mereka yang “hidup kembali” setelah “mati”. Kita justru dibuat kagum dan terinpirasi dengan mereka. Dan kalau boleh dinilai, kita akan memberi nilai A+ pada perjuangan mereka dan pada kondisi mereka setelah mereka pulih kembali.
Tentu kita tidak perlu menjadi “rusak” terlebih dahulu untuk memiliki “nilai” yang tinggi. Dari kondisi biasa-biasa saja, kita tidak bisa menjadi luar biasa. Dari sekedar estede (standar), kita bisa melampaui standar. Semuanya bisa dan mungkin, asalkan kita mau. Anda setuju??
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Aug | ||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
| 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 |
| 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 |
| 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 |
| 27 | 28 | 29 | 30 | |||
4 Responses for "Pulih Setelah Rusak"
Hmmm…nak Anna,
Aki “kepingin nimbrung rembugan”
sajake ‘menungsa” kuwi pancen njarak, mulo soro datheng kelingan lan sadar, kudu ono sing “ngeplaki” dhisik dining sadar …ora kepepet ora sadar, ora soro ora kepenak, ora luwe ora wareg…. kudu perna weruh soro ne urip dhisik dining dadi wong kepenak….
oh..menungsa..menungsa…nelangsa…aku…
The ability to bounce back from the abyss of life is what separate us from the animal-(forgot who wrote it)
@ki ageng: numpang nanya, ini Ki ageng yg jg aktif di forumnya Zeverina di Kompas.com?
@ Ki Ageng,
smg gak salah ngartikan tulisan Aki ya… (maklum yg nulis itu bali bukan bali, jawa bukan jawa)
thanks rembugannya, nambah wacana nih dan bisa dibikin ide tulisan selanjutnya.
anyway, kalo tulisan ini bukan soal “kalo gak pernah sengsara gak bisa ngerasain apa itu bahagia”
tapi… soal gimana “nilai” manusia wkt itu mau bangkit, mau “sembuh”, mau pindah, dari kondisi skrg yg kurang ok.
spt quote dr Jumai itu, persis itu ide tulisan ini.
@ Jumai
hmmm … kalo tau siapa itu Ki Ageng….. ngggg..
silakan Ki dijawab sndiri ya..
Nice article niy.. Memank manusia ntu bkan barang.. Maka ketika dlam kondisi apapun bkan berarti rendah dalam pandangan TUHAN.. semua kembali pd manusianya yg kan menjalani tempaan hdup dg cara bgaimana.. Dan salut jg dg manusia-manusia yg telah mampu berdiri setelah jatuh dan melompat lebih tinggi..
And tx to ana for sharing inspiration article..
Leave a reply