Banyak dari kita yang sulit percaya terhadap orang lain.

Demikian juga dengan krisis kepercayaan terhadap diri sendiri.

Ada juga yang dulunya mudah percaya, tapi karena sebuah bahkan beberapa pengalaman, akhirnya sekarang menjadi tidak lagi mudah percaya lagi dengan orang lain.

Namun ada juga beberapa kejadian, yang membuktikan bahwa masih mudah rasa percaya terhadap orang lain itu ditumbuhkan.

Dari rasa percaya, telah banyak kisah sukses dilahirkan. Rasa percaya membuat orang mampu melewati hambatan, mampu keluar dari keterbatasan, bahkan diibaratkan dengan rasa percaya kita mampu memindahkan gunung.

 

Ketika kita sedang krisis kepercayaan, dan ketika kita mempertanyakan seperti ya apa rasa percaya yang total, kepada siapa kita bisa belajar soal rasa percaya? Ya, salah satunya adalah perilaku anak kecil yang sangat percaya terhadap sosok orang yang ada di dekatnya.

 

Dua cerita dari anak kecil berikut akan mengingatkan kita kembali tentang rasa percaya.

 

Cerita pertama.

Seorang gadis kecil ikut ayahnya naik pesawat terbang. Si ayah gadis ini adalah seorang pilot yang menerbangkan pesawat tersebut. Ketika pesawat melintasi samudera Atlantik, tiba-tiba saja muncul badai. Sangat kencangnya badai tersebut, sehingga pesawatpun terguncang-guncang. Pramugari pesawat langung membangungkan para penumpang, termasuk si gadis kecil. Si gadis kecil memang sedang tertidur dengan lelap. Pramugari membangunkannya dan memintanya segera mengenakan sabuk pengaman. Di saat amukan kilat yang menyambar-nyambar pesawat itu, gadis kecil itu membuka matanya dan bertanya kepada pramugari, “Apakah papa saya masih memegang kendali pesawat ini?”

Pramugari itu tersenyum dan menjawab, “Ya, papamu masih berada di cockpit, sayang.”

Si gadis menutup matanya dan hendak melanjutkan tidurnya. Pramugari ini kembali membangunkan si gadis kecil, “Kamu jangan lagi tertidur, sayang. Ayo, segera kenakan sabuk pengaman. Pesawat dalam keadaan bahaya.”

“Buat apa aku takut? Selama papaku yang memegang kendali pesawat ini, papaku pasti sanggup mengatasi badai.” Dan si gadis kecil itu kembali melanjutkan tidurnya.

(ditulis ulang dari lembaran Warta Paroki th. VI no. 221/29 Maret 2009)

 

Cerita kedua.

Dikisahkan pada jaman dahulu, di Flores, untuk mencari nafkah, sebuah keluarga berjualan sayur mayur di pasar yang terletak di kota. Dari desa keluarga tersebut, untuk menuju ke kota, harus menempuh perjalanan yang melewati jauh dengan jurang di sisi kanan dan tebing di sisi kiri jalan yang tidak terlalu lebar.

Suatu saat, anak lelaki kecil dari keluarga tersebut ingin ikut ibunya berjualan ke pasar di kota. Untuk pertama kalinya ia ikut ibunya berjualan. Satu-satunya alat transportasi yang bisa membawa mereka ke kota adalah dengan menumpang pada truk. Karena minimnya alat transportasi waktu itu, satu truk bisa memuat belasan penumpang termasuk barang dagangan yang akan dijual di kota.

Ketika melewati sebuah pegunungan, jalan yang dilalui rusak parah. Banyak lubang disana sini ditambah lagi akibat hujan semalam, longsoran dari tebing masih membekas di jalan tersebut.

Tiba-tiba saja truk yang ditumpangi anak lelaki bersama ibu dan penumpang lainnya itu terguncang-guncang. Trus meliuk kesana kemari, menghindari jalan yang rusak dan berlubang, sekaligus menghindari mobil dari arah berlawanan yang berjalan dengan kencang.

Para penumpang di bak truk itu mulai berteriak dan menjerit ketakutan. Mereka memegangi barang jualannya agar tidak terpental keluar trus. Selain itu mereka juga sibuk berpegangan pada sisi bak truk agar mereka sendiri kita terlempar. Namun, tidak demikian dengan si anak lelaki kecil itu. Dia memejamkan mata, seolah menikmati setiap guncangan truk yang melewati jalanan yang rusak. Dia hanya berpegangan di lengan ibunya dan tidak nampak kecemasan di wajahnya.

Para ibu yang menumpang di bak truk itu meneriaki si anak lelaki kecil. “Hey, kenapa kamu bisa begitu tenang. Kita semua dalam bahaya! Jalanan rusak dan di sisi kanan kita itu jurang! Salah sedikit saja sopir truk ini mengendalikan truk, kita semua bisa terjatuh dalam jurang!”

“Kenapa saya harus takut? Sopir truk ini, bapak saya sendiri kok”.

 

Ya, begitu percayanya si gadis kecil dan anak lelaki kecil ini terhadap ayahnya yang memegang kendali, sehingga tidak terbersitpun rasa kuatir pada diri mereka.

Bagaimana dengan kita?