Inspire people to succeed
Beberapa bulan belakangan ini saya banyak berjumpa dengan orang-orang yang menginspirasi saya. Apakah ini kebetulan? Kayaknya sih nggak. Dalam buku The Secret of Luck, dikatakan luck is when preparation meets opportunity. Do I prepare for that (meet the inspiring people)? I don’t think so actually. Exactly, I don’t aware anymore, but I’m sure I’ve ever dreamt for that.
Yang akan saya ceritakan disini adalah seorang teman baru yang saya kenal hari Sabtu kemarin dalam sebuah training Motivasi. Namanya Ananda. Meskipun usianya 3 tahun lebih muda, saya enjoy memanggilnya dengan Mas Nanda.
Apa ya yang membuat saya ingat Mas Nanda? Salah satunya karena lagu berjudul Stand Up (for The Champions). Lagu yang diputar Mas Nanda di akhir training ini sangat enak didengar. Penuh semangat. Dan sekarang saat saya memutar lagu ini untuk menemani saya bekerja, dengan mudah saya bisa ingat kembali sosok Mas Nanda. Sepertinya ada anchor audio nih dalam lagu yang ternyata menjadi theme song di kejuaraan FIFA tahun 2006, dan baru saya dengar pertama kali Sabtu kemarin itu.
Anda tahu kan penyedia jasa pembuatan stempel kilat yang ada di pinggiran jalan? Mulai dari kios kecil sampai di toko yang lumayan besar tidak sulit untuk menemukan jasa pembuatan stempel model ini. Di jaringan toko buku yang terbilang besar di Indonesia pun bisa menyediakan jasa yang satu ini. Setengah hari bahkan cukup dengan satu jam stempel ini sudah bisa kita peroleh sesuai dengan design yang kita inginkan. Mulai dari pembuatan stempel logo perusahaan, stempel tulisan ”LUNAS” atau tulisan nama sekalipun, semua bisa dikerjakan secara kilat, dengan kualitas yang sama atau hampir sama dengan pembuatan stempel biasa yang membutuhkan penyelesakan dalam hitungan hari.
Tapi, ternyata ada yang lebih cepat dari pembuatan stempel kilat itu. Tidak membutuhkan waktu satu atau setengah jam, tapi dalam beberapa menit bahkan hitungan detik sudah langsung jadi. Stempel apakah itu??
Kamis, 20 November 2008, pukul 05.26 nada masuk sms di HP saya berbunyi. Segera saya buka. Sms ini benar-benar “cantik”, karena isinya soal Wanita Cantik. Sms ini dikirim oleh Ibu Silvana Marga, rekan senior saya yang energik dan masih suka belajar. Begini isinya :
Wanita cantik melukis kekuatan lewat masalah
Tersenyum saat tertekan.
Tertawa disaat hati sedang menangis.
Memberkati disaat terhina.
Mempesona karena memaafkan.
Wanita cantik mengasihi tanpa pamrih
Dan bertambah kuat dalam doa dan pengharapan
Saya baru saja membaca kumpulan metaphora karangan RH. Wiwoho, perintis NLP di Indonesia. Ada satu tulisannya, berjudul The Magic of Language yang menarik untuk saya sharingkan disini, karena ada pengalaman yang bisa saya jadikan contoh.
Begini, saat saya mendengarkan cerita seorang teman yang berisi tumpahan uneg-uneg, kekesalan, kejengkelan atau bahkan kemarahannya, ada kalimat-kalimat seperti ini:
· “Saya ingin fokus mengurus anak dan rumah tangga tapi saya sudah terbiasa bekerja di kantor dan mendapatkan penghasilan secara tetap…”
· “Sebenarnya saya ingin menjaga keutuhan pernikahan ini, tapi suami saya sangat menyebalkan dan hampir tidak mau peduli lagi”
· “Saya ingin tim ini berjaya seperti dulu, tapi sekarang anggota tim-nya sudah semakin sedikit dan saya harus berjuang sendirian”
· “Keluar dari masalah ini adalah keinginan saya yang terdalam, tapi semakin saya berupaya mengatasi masalah, masalah yang baru bermunculan”
· “Saya ingin tegar dan kuat seperti dia, tapi kok sepertinya saya belum memiliki bakat dan karakter yang dia miliki ya..”
(kalimat diatas tidak sama persis dengan aslinya, untuk menjaga privasi si penyampai kalimat)
Apa ya yang bisa saya lakukan bila menghadapi kalimat diatas?
Hiruk pikuk tulisan dan berita tentang Barrack Obama di media cetak dan elektronik sangat terasa, sampai pasca terpilihnya Obama. Kisah masa kecilnya yang penuh warna, perjuangannya mencapai kursi Senator Amerika sampai dengan pesonanya selama masa kampanye, menjadi berita yang patut untuk disimak. Setidaknya untuk menjadi wacana kehadiran seorang Afro Amerika pertama yang menjadi Presiden Amerika Serikat.
Tidak berhenti sampai disitu. Pasca terpilih menjadi Presiden dalam Pemilu tanggal 4 November lalu, nama Obama menjadi inspirasi dari Ibu-ibu untuk memberi nama yang sama dengan anak mereka yang baru lahir. Bukan hanya nama Obama. Nama Michelle sang istri, Malia dan Sasha kedua putri Obama, juga dijadikan nama-nama bayi yang lahir pasca kemenangan Obama dari rivalnya, McCain. O’baby, demikian nama fenomena yang terjadi di Amerika saat ini. (sumber: petikan berita di radio Suara Surabaya, 13 November 2008)
Setelah sekian lama melewatkan kesempatan menonton tayangan Mario Teguh Golden Ways (MTGW), hari minggu kemarin (02/11/208) saya kembali berkesempatan untuk menonton. Topik kali ini menarik. Mengangkat tema dari lagu milik Madona yang awalnya sempat tidak saya sukai, berjudul Frozen. Meskipun diambil dari lagu yang tidak saya sukai sebelumnya, tapi saya tetap menonton tayangan ini. Kenapa? Apapun judul lagu yang dipakai atau topik yang diangkat di MTGW, saya yakin pasti menarik dan ada saja inspirasi yang bisa saya dapatkan. So, I don’t judge the TV progam by it’s song
Jujur saja di awal-awal lagu ini beredar, saya kurang suka dengan musik lagu ini. Jeleknya, kalau sudah kurang suka dengan musiknya, saya jadi tidak memperhatikan apa lirik lagu ini. Tapi ternyata… lirik lagu ini sangat bagus! Coba saja simak liriknya. Singkat, tapi sarat makna.
Masalah peserta yang tidak mau berpartisipasi dalam aktivitas team sudah bisa dipahami, bukan? Sekarang kita tilik masalah berikutnya:
Bagaimana jika peserta tidak mengerti petunjuk yang diberikan?
Tandanya adalah:
· Wajah bingung
· Peserta saling bertanya tentang apa yang harus dilakukan
· Peserta tidak melakukan sesuai harapan
· Tidak ada yang terjadi ketika aktivitas dimulai
· Banyak pertanyaan sebagai klarifikasi
50 Quick Team Building Games karangan Brian Cole Miller. Judul buku setebal 289 halaman ini adalah hadiah dari teman saya, Jumai, sebelum dia melanjutkan kehidupannya di negara asal artis Jang Nara, Korea. Ekspresi senang jelas terlihat di wajah saya saat menerima buku ini. Teman saya yang lain mengatakan: ”Wah, Anna bangeeettt”, ketika melihat buku dengan cover warna putih dengan garis merah di pinggirnya itu berada di tangan saya. ”Buku ini pasti bermanfaat buat saya”, demikian yang saya yakini dan saya katakan kepada si pemberi buku.
Memang tidak salah. Meskipun sudah mengoleksi beberapa buku training dan pengembangan team, ternyata isi buku ini tetap menarik. Ada bagian dari buku ini yang akan saya bagikan disini. Saya ambil dari pengalaman yang saya alami sendiri, atau hasil pengamatan langsung dari aktivitas pengembangan tim yang sering dilakukan.
Selama menjalankan aktivitas pengembangan tim, menyelenggarakan training atau aktivitas berkelompok lainnya, dua dari kejadian ini berpotensi untuk terjadi, atau bahkan sering terjadi.
1. Satu atau beberapa peserta tidak mau berpartisipasi
2. Peserta tidak mengerti petunjuk yang diberikan
Apa ya penyebabnya? Bagaimana mencegahnya? Bagaimana mengatasinya?
Supaya kita semakin sukses dalam melakukan aktivitas team. Yuk kita bahas satu per satu.
Begitulah komentar paling populer tentang kualitas lulusan perguruan tinggi kita. Lucu juga. Karena jika menengok ke belakang ketika kita masih seperti mereka dan melamar pekerjaan kesana kemari sehabis wisuda,k ita tidak berbeda jauh dari mereka. Kita sering tidak menyadari bahwa kematangan yang saat ini kita miliki merupakan hasil dari tempaan yang dijalani setiap hari.
Dia diberi nama ‘pengalaman’. Dan pengalaman tidak bisa dipelajari dengan membaca buku atau duduk di bangku kuliah. Lebih dari itu, ‘siap pakai, bukanlah monopoli mereka yang baru masuk kerja. Kita yang sudah lama bekerja pun belum tentu ‘siap pakai’. Meskipun terdengar agak janggal, namun relevan dengan situasi aktual keseharian kita. Jangan-jangan orang-orang yang mengaku kompeten seperti kita ini jauh lebih ‘tidak siap pakai’-nya dibanding mereka?