<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Inspiratio</title>
	<atom:link href="http://www.inspiratio.web.id/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.inspiratio.web.id</link>
	<description>Inspire people to succeed</description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Aug 2010 04:00:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Ketika Krisis Datang</title>
		<link>http://www.inspiratio.web.id/?p=362</link>
		<comments>http://www.inspiratio.web.id/?p=362#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2010 04:00:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Galeri Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inspiratio.web.id/?p=362</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu hari, seorang pengusaha jatuh miskin karena perusahaannya bangkrut akibat krisis ekonomi yang tengah melanda negaranya. Seisi rumah si pengusaha menderita karenanya. Mereka tidak lagi dapat hidup enak dan mewah seperti dulu. Kondisi telah berbalik 180 derajat. Suasana rumah tidak lagi hangat dan ceria. Wajah penghuni rumah selalu saja muram, lesu dan sesekali gurat-gurat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada suatu hari, seorang pengusaha jatuh miskin karena perusahaannya bangkrut akibat krisis ekonomi yang tengah melanda negaranya. Seisi rumah si pengusaha menderita karenanya. Mereka tidak lagi dapat hidup enak dan mewah seperti dulu. Kondisi telah berbalik 180 derajat. Suasana rumah tidak lagi hangat dan ceria. Wajah penghuni rumah selalu saja muram, lesu dan sesekali gurat-gurat kesedihan nampak jelas di wajah mereka.</p>
<p>Suatu sore, pengusaha dan ketiga anaknya pulang dari bepergian keluar rumah untuk menenangkan pikiran masing-masing. Sebelum masuk rumah, mereka sudah harap-harap cemas dan bertanya-tanya, makanan apa yang disediakan oleh Ibu mereka di meja makan.</p>
<p>Mereka memasuki rumah dengan berjalan perlahan-lahan. Sesampainya di ruang makan, alangkah terkejutnya mereka karena melihat di atas meja makan tersedia makan malam yang amat mewah dan lezat. Layaknya ada pesta besar saja. Melihat makan malam yang luar biasa, pengusaha itu memandang istrinya.</p>
<p><span id="more-362"></span>”Bu,” katanya dengan nada tinggi. ”Apa yang kamu lakukan? Apa kamu sudah gila? Perusahaan sumber nafkah kita ambruk dan penghasilan kita berkurang drastis. Kamu malahan menyiapkan makan malam yang mewah!!”</p>
<p>”Tidak, Pak, tidak. Aku masih waras. Tidak gila,” jawab si istri dengan tenang. ”Sesekali kita harus bergembira. Sejak krisis melanda perusahaan kita, dan kebangkrutan menghampiri kita, kita semua bersedih. Kita menjadi tidak memiliki gairah lagi. Karyawan kita dengan penuh kesadaran memahami kondisi perusahaan kita dan mereka sanggup diberhentikan tanpa pesangon. Kita memang sedang menghadapi keadaan yang sulit, tetapi kita tidak boleh tenggelam dalam kesedihan. Yang kita butuhkan sekarang ini adalah kegembiraan dan semangat berjuang, agar mampu menghadapi masa-masa sulit ini dengan tabah dan ikhlas. Bersedih dan berputus asa hanya menambah beban dan tidak akan menyelesaikan masalah.”</p>
<p>Meskipun tidak mudah menerima dan meng-iya-kan perkataan istri dan Ibu mereka, namun untuk sementara seluruh isi keluarga itu menyantap makanan yang tersedia dengan wajah berseri-seri. Tidak ada lagi pembicaraan tentang krisis ekonomi dan kondisi keterpurukan mereka, seperti pembicaraan pada saat makan malam sebelumnya.</p>
<p>Keesokan harinya, ketiga anak pengusaha itu langsung bekerja untuk meringankan beban keluarga. Tidak sekedar mengeluh dan menggerutu. Seusai jam kerja, anak pertama yang sudah bekerjadi sebuah perusahaan, tidak langsung pulang, melainkan bekerja lembur. Sepulang sekolah, anak kedua menjadi tukang parkir. Dan anak ketiga menjadi penjual koran di perempatan jalan.</p>
<p>Sejak saat itu, keadaan rumah kembali seperti dahulu, penuh keceriaan dan semangat. Kendati perusahaan yang mereka banggakan kita sudah berpindah ke tangan pengusaha lain, namun kebahagiaan seperti pada waktu mereka sedang di masa jaya, kini perlahan sudah datang mengisi hari-hari seluruh isi keluarga itu.</p>
<p>(diadaptasi dari tulisan berjudul : Krisis Moneter, dari ”Konferensi Tikus-Tikus : kumpulan cerita”, Agus M. Hardjana)</p>
<p><em>Sobat, krisis tidak selalu harus menjadi malapetaka dan akhir dari cerita kebahagiaan hidup kita. Krisis dapat menjadi cambuk untuk menyingsingkan lengan baju dan berjuang untuk mengatasinya. Kita tidak pernah sendirian. Selalu ada harapan dan peluang untuk keluar dari masa-masa sulit kita, selagi kita tidak terkurung dalam keluhan dan ratapan, dan mau menjalani dengan ikhlas hati sebuah langkah awal kita yang baru.</em></p>
<p>Note : tulisan ini pernah dimuat di <a href="http://www.tranceformasiindonesia.com">www.tranceformasiindonesia.com</a> (TI), krn perubahan web TI, tulisan ini tidak bisa diakses lagi. tulisan ini saya posting kembali disini, smg</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inspiratio.web.id/?feed=rss2&amp;p=362</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelajaran Delegasi dari Kawanan Angsa</title>
		<link>http://www.inspiratio.web.id/?p=359</link>
		<comments>http://www.inspiratio.web.id/?p=359#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Aug 2010 03:53:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Management Series]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inspiratio.web.id/?p=359</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian besar dari kita pasti pernah membaca ilustrasi tentang angsa yang membentuk formasi V. Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari ilustrasi ini, dan salah satu pointnya adalah tentang pendelegasian. Yuk mari kita refresh lagi ilustrasi tentang angsa dan formasi V tersebut. Salah satu yang menarik setiap tahun pada musim semi dan musim gugur adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagian besar dari kita pasti pernah membaca ilustrasi tentang angsa yang membentuk formasi V. Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari ilustrasi ini, dan salah satu pointnya adalah tentang pendelegasian. Yuk mari kita <em>refresh</em> lagi ilustrasi tentang angsa dan formasi V tersebut.</p>
<p>Salah satu yang menarik setiap tahun pada musim semi dan musim gugur adalah melihat angsa Kanada terbang melintas kawasan pepohonan di South Jersey. Pecinta alam suka mengamati burung angsa itu, dan mereka memperoleh temuan yagn mengagumkan. Salah satunya, mereka mengetahui bahwa angsa-angsa Kanada itu menggilir kepempimpinan ketika terbang dalam formasi V. Setiap sekitar duabelas menit, angsa terdepan mundur dan membiarkan angsa baru mengambil posisi memimpin.<br />
<span id="more-359"></span>Secara instingtif angsa itu tahu bahwa posisi kepemimpinan dalam formasi V adalah titik terberat untuk ditempati karena mereka harus melawan angin. Mereka paham tidak harus satu angsa saja yang harus menanggung tugas dan bertanggung-jawab demi kawanan itu.<br />
Apa yang berlaku bagi angsa Kanada tersebut, juga berlaku pada kita. Beban yang ditanggung kawanan burung atau tim harus dibagi dan didistribusikan. Kalau tidak, pemimpinnya akan kelelahan, kacau dan kehabisan daya.</p>
<p>Berangkat dari pengalaman mendapatkan dan menjalankan delegasi, mengikuti training pendelegasian (salah satunya, AVA Delegation Course, referensi tulisan ini), serta memberikan delegasi kepada rekan kerja, akhirnya saya menyadari bahwa pelajaran tersulit selama berorganisasi adalah ketika melakukan delegasi. Saya awalnya lebih menyukai mengerjakan semua dengan sentuhan tangan saya mulai A sampai Z. Ada kepuasan tersendiri bila saya berhasil menjalankan suatu tugas mulai dari mencetuskan ide sampai dengan memberikan sentuhan akhir pada tugas saya.<br />
Tapi, lama-kelamaan saya mengetahui hal ini berakibat buruk. Tidak baik buat saya pribadi karena saya kehabisan waktu untuk mengerjakan sesuatunya sampai detil, dan kurang fokus pada hal-hal yang lebih penting lainnya. Tidak baik juga untuk anggota tim. Tidak ada proses pembelajaran, proses pengayaan (enrichment) dan proses pengembangan kemampuan dan pembentukan karakter anggota tim.</p>
<p><strong><span style="color: #000080;">Apa sih delegasi itu?<br />
</span></strong>Sederhananya, delegasi adalah pelimpahan tanggung-jawab dan wewenang kepada anak buah atau rekan kerja.<br />
Ingat bahwa dalam delegasi ada 2 unsur, yaitu<br />
<strong>Tanggung-jawab :</strong> kewajiban yang harus dilaksanakan<br />
<strong>Wewenang :</strong> kekuasaan untuk menunaikan kewajibannya<br />
Seringkali si delegator hanya fokus kepada tanggung-jawab tugas yang harus diselesaikan, namun lupa memberikan wewenang.</p>
<p><span style="color: #000080;"><strong>Bagaimana tahapan delegasi dilakukan?</strong></span><br />
Tentunya tidak secara otomatis kita memberikan delegasi penuh kepada rekan kerja kita. Ada tahapan-tahapan yang harus dilakukan sebelum memberikan delegasi penuh (<em>full delegation</em>).<br />
<span style="text-decoration: underline;">Tahap pertama :</span><br />
 Tulis tanggung-jawab yang harus dilaksanakan anak buah<br />
 Jelaskan kepada anak buah<br />
 Minta anak buah memaparkan pemahaman yang harus dilaksanakan<br />
 Beri dukungan lewat wewenang yang Anda miliki<br />
 Anak buah melaporkan hasil pelaksanaan</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Tahap kedua :</span><br />
 Jelaskan tanggung-jawab<br />
 Beri wewenang<br />
 Tunaikan<br />
 Lapor</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Tahap ketiga :</span><br />
 Usulkan beberapa pelaksanaan tangung-jawab<br />
 Beri wewenang<br />
 Tunaikan<br />
 Lapor</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Tahap keempat :</span><br />
 Usul pelaksanaan<br />
 Tunaikan<br />
 Lapor Tahap kelima :<br />
 Tunaikan<br />
 Lapor</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Tahap keenam :</span><br />
Full Delegation</p>
<p><strong><span style="color: #000080;">Apa saja yang perlu diperhatikan dalam pendelegasian? </span></strong><br />
Tentu tidaklah mudah kita memberikan delegasi. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan diingat sebelum kita memberikan delegasi. Tidak semua tugas bisa didelegasikan, dalam kondisi yang mendesak sekalipun.<br />
Beberapa hal yang perlu diperhatikan :<br />
 <strong>Pilih anak buah yang kompeten</strong><br />
Bila kita belum menemukan anak buah yang kompeten di bidangnya, temukanlah mereka yang paling memiliki potensi untuk bisa menjalankan delegasi. Berlakukan tahapan pendelegasian, untuk melihat seberapa kompeten anak buah tersebut menjalankan delegasi.<br />
 <strong>Pekerjaan yang sifatnya rahasia, jangan didelegasikan</strong><br />
Delegasikan pekerjaan yang sudah jelas teknik pelaksanaannya, jelas wewenangnya, namun bukan pekerjaan yang rahasia, yang sebenarnya hanya pimpinan yang boleh mengerjakan.<br />
 <strong>Pertanggungjawaban tetap di tangan pimpinan<br />
</strong>Meskipun pekerjaan sudah didegasikan, bukan berarti pimpinan lepas tangan dan tidak bertanggung-jawab. Pantaulah setiap pelaksanaan tugas atau perkembangan atas delegasi yang dikerjakan. Dengan demikian pimpinan yakin dalam mempertanggungjawabkan pekerjaannya, termasuk pekerjaan yang didelegasikan.</p>
<p>Kembali ke ilustrasi angsa diatas, bila angsa yang memimpin kawanannya tidak mau berpindah posisi dan mengikuti pola <em>one man show</em> dapat dibayangkan bagaimana lelahnya pemimpin angsa tersebut terbang dengan melawan arus angin yang kencang.<br />
Bila kita memiliki persoalan dalam mempercayai rekan kerja dalam mendelegasikan pekerjaan, sebaiknya kita segera menyadari bahwa orang-orang terbaik yang ada di sekeliling kita adalah mereka yang bekerja sepenuh kemampuan mereka untuk kepentingan diri kita sendiri. Andai mereka berhasil menjalankan pekerjaan yang kita delegasikan, jangan merasa terancam. Keberhasilan mereka adalah keberhasilan kita juga. Bukankah pekerjaan kita menjadi ringan dengan adanya pendelegasian?<br />
Ketika tugas kita semakin ringan, kita bisa berfokus pada tugas-tugas yang lebih penting dengan pertanggungjawaban yang lebih luas, tugas-tugas untuk pengembangan atau yang sifatnya inovatif. Dengan demikian kita juga memiliki waktu yang cukup untuk pengembangan diri sendiri, bukan?</p>
<p>Note : tulisan ini pernah dimuat di www.tranceformasiindonesia.com (TI), krn perubahan web TI, tulisan ini tidak bisa diakses lagi. tulisan ini saya posting kembali disini, smg (tetap) bermanfaat&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inspiratio.web.id/?feed=rss2&amp;p=359</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesan Pertama&#8230; Begitu Menggoda</title>
		<link>http://www.inspiratio.web.id/?p=339</link>
		<comments>http://www.inspiratio.web.id/?p=339#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jul 2010 05:46:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Management Series]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inspiratio.web.id/?p=339</guid>
		<description><![CDATA[Judul tulisan ini adalah tagline iklan salah satu produk customer goods. Tentu kita semua masih ingat kan? Tagline ini cukup mengena dan sempat menjadi top of mind bagi pemirsa maupun pembaca pada waktu itu. Tagline ini juga menjadi jargon yang sering diucapkan di berbagai acara, bahkan sampai dengan diplesetkan menjadi sebuah jargon yang jenaka. Di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul tulisan ini adalah <em>tagline</em> iklan salah satu produk <em>customer goods</em>. Tentu kita semua masih ingat kan? <em>Tagline</em> ini cukup mengena dan sempat menjadi <em>top of </em>mind bagi pemirsa maupun pembaca pada waktu itu. <em>Tagline</em> ini juga menjadi jargon yang sering diucapkan di berbagai acara, bahkan sampai dengan diplesetkan menjadi sebuah jargon yang jenaka.</p>
<p>Di dunia komunikasi dan hubungan interpersonal, dikatakan bahwa kesan pertama adalah dua menit pertama yang diperhitungkan. <strong>It is the first two minutes that counts.</strong> Benarkah?<span id="more-339"></span></p>
<p>Dalam berbagai kesempatan, seringkali kita menilai seseorang dari kesan pertama yang diciptakan. Ketika mewawancarai calon karyawan, hal pertama yang diperhatikan adalah penampilan si<em> interviewee</em>, bahasa tubuh dan caranya memulai komunikasi. Setelah itu barulah kita perhatikan isi dan bobot jawaban dari pertanyaaan yang dilontarkan si <em>interviewer</em>. <em>Interviewee</em> yang berpakaian rapi dan necis pasti membuat kita memberi nilai yang berbeda dibandingkan ketika melihat yang berpakaian terlalu <em>casual</em>, lengkap dengan perhiasan atau <em>make up</em> yang berlebihan.</p>
<p>Berjumpa dengan orang yang belum kita kenal dalam suatu acara seminar, sebelum kita tergerak untuk berkenalan atau memulai percakapan, pasti kita perhatikan bagaimana kesan orang tersebut dalam persepsi kita. Orang yang kita kesankan sebagai orang yang<em> friendly</em> tentu jadi pilihan utama kita untuk mengajaknya berkenalan, daripada mereka yang terlihat kurang bersahabat.</p>
<p>Lain halnya dengan trainer. Trainer lebih sering tertarik untuk mendekati peserta training yang terkesan pasif, tidak nyaman, acuh atau tidak bersemangat. Peserta training yang aktif dan responsif tentu tidak memerlukan pendekatan tersendiri dari si trainer. Karena dengan sendirinya peserta dari kelompok ini sudah menjadi pusat perhatian yang dapat menghidupkan acara training.</p>
<p>Kesan pertama yang baik adalah awal dari suatu kesempatan, keputusan dan hubungan yang baik. Sebaliknya, kesan pertama yang buruk bisa menjadi sumber masalah untuk selanjutnya. Kabar baiknya adalah, kita hanya memiliki <strong>satu kesempatan</strong> untuk membuat kesan pertama yang baik. Dan kabar buruknya adalah, kesan pertama yang buruk dapat membuat penilaian yang buruk secara konstan, bahkan digeneralisir ke aspek-aspek yang lain, meskipun kita sudah berupaya untuk memperbaikinya.</p>
<p><strong>Kris Cole</strong>, dalam bukunya<strong><em> Crystal Clear Communication</em></strong> (yang menjadi salah satu buku referensi saya dalam membuat modul training topik komunikasi) menyebutkan tiga hal yang sangat mempengaruhi kesan pertama, yaitu Penampilan, Bahasa Tubuh dan Suara.</p>
<p><strong>1. Penampilan</strong></p>
<p>99% kesan pertama dibentuk dari penampilan kita. Pakaian yang kita kenakan,<em> make up</em> yang kita gunakan, perhiasan/asesori yang melekat di tubuh kita bahkan benda-benda atau perlengkapan yang kita bawa, semuanya memberikan kesan tersendiri. Terlepas dari merk atau harga pakaian, perhiasan dan perlengkapan tersebut, penampilan yang terkesan “baik” di mata orang lain, sudah memberikan satu point tersendiri untuk citra yang kita kesankan. Pakaian yang kita kenakan memang tidak mempengaruhi kualitas kompetensi kita, namun secara simbolis mengkomunikasikan pesan yang sangat bermakna bagi orang lain terhadap kita.</p>
<p>Faktor lain dalam penampilan yang berpengaruh diantaranya adalah tinggi badan, berat badan dan usia. Beberapa dari faktor ini tidak bisa kita kendalikan, contohnya usia, namun tetap saja dapat kita manipulasi dengan hal-hal alami seperti semangat yang tinggi atau senyum yang tetap cerah meskipun sudah memasuki usia kepala 5.</p>
<p><strong>2. Bahasa Tubuh (<em>Body Language</em>)</strong></p>
<p>Bahasa tubuh yang menyampaikan seribu makna bagi orang lain. Bahasa tubuh yang membawa kesan diantaranya adalah </p>
<ul>
<li>Kontak mata<strong></strong></li>
<li>Senyuman<strong></strong></li>
<li>Jabat tangan<strong></strong></li>
<li>Ekspresi wajah<strong></strong></li>
<li>Gerakan (tangan, tubuh, kaki, kepala, bahu, mata)<strong></strong></li>
<li>Cara berdiri<strong>, </strong>dll<strong></strong></li>
</ul>
<p>Kita bisa memilih kontak mata yang tajam namun tidak terkesan menyelidik, atau kontak mata yang ragu-ragu bahkan menghindar adanya kontak mata dengan lawan bicara. Kita juga bisa membuat senyum yang tulus, atau senyum yang berat dan terpaksa. Jabat tangan yang terlalu erat dan kuat, atau jabat tangan yang lemah, atau yang moderat diantara keduanya. Ekspresi wajah yang murung, tidak bergairah, marah atau ekspresi yang bergairah, semangat, ceria, dan berbagai gerakan dan bahasa tubuh lainnya semuanya bisa kita ciptakan dengan sadar. Atau ketika kita tidak sadar sekalipun, bahasa tubuh kita sudah membangun kesan pertama yang akan selalu diingat. <strong></strong></p>
<p><strong>3. Suara</strong></p>
<p>Suara yang mantap, tenang dan kuat tetapi tidak terlalu keras lebih banyak memberikan kesan yang baik untuk kita. Sebaliknya, suara yang terdengar ragu, intonasi yang terlalu berlebihan dan kecepatan suara yang tidak terkendali akan menimbulkan kesan yang buruk di awal sebuah relasi. Sebagian dari faktor suara ini (volume, kecepatan, intonasi) merupakan faktor bawaan, namun semuanya dapat dipelajari dan dikendalikan. Dan yang pasti menciptakan kesan tersendiri bagi lawan bicara kita.</p>
<p>Coba tanyakan kepada kekasih, pasangan dan sahabat dekat kita, apa yang membuat mereka tertarik untuk memulai relasi dan akhirnya memilih kita menjadi partnernya atau orang terdekatnya? Kebanyakan dari mereka akan menjawab bahwa kesan pertama dari kita yang telah mencuri perhatian mereka. Selanjutnya masalah karakter, kepribadian atau tingkah laku, pasti akan menentukan bagaimana kedekatan relasi tersebut terjalin.</p>
<p>Atau tanyakan kepada atasan kita, apa yang membuat ia memilih kita menjadi partner kerjanya, pasti sebagian besar dipengaruhi dari kesan yang tercipta sewaktu perjumpaan pertama dalam wawancara. Selain itu, isi riwayat hidup (CV), prestasi akademik, ketrampilan, keahlian dan pengalaman kerja atau organisasi dan hasil psikotes tentu akan menjadi bahan pertimbangan selanjutnya.</p>
<p>Kesan pertama yang menentukan langkah berikutnya tidak selalu yang dianggap “baik” oleh kebanyakan orang, seperti ramah, rendah hati, terbuka, bersahabat, dll. Kadangkali kesan pertama yang “unik” tidak jarang juga menarik perhatian. Mereka yang terkesan acuh, angkuh, serius, atau cerewet sekalipun bisa menjadi alasan untuk sebuah kesan yang bermakna.</p>
<p>Tidak jarang, kesan pertama yang terlanjur direkam oleh orang lain ternyata tidak sesuai dengan realita kita sesungguhnya dan akhirnya menciptakan sebuah kata : ”oh, ternyata&#8230;.”</p>
<p>Apapun kesan pertama yang diciptakan, memang terbukti bahwa kesan pertama begitu menggoda, kesan pertama&#8230;.begitu bermakna.</p>
<p>Note : tulisan ini pernah dimuat di <a href="http://www.tranceformasiindonesia.com">www.tranceformasiindonesia.com</a> (TI), krn perubahan web TI, tulisan ini tidak bisa diakses lagi. tulisan ini saya posting kembali disini, smg (tetap) bermanfaat&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inspiratio.web.id/?feed=rss2&amp;p=339</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar dari Tujuh Hukum Alam Semesta</title>
		<link>http://www.inspiratio.web.id/?p=328</link>
		<comments>http://www.inspiratio.web.id/?p=328#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jul 2010 05:31:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Galeri Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inspiratio.web.id/?p=328</guid>
		<description><![CDATA[Alam semesta ternyata banyak memberikan kita pembelajaran. Mencermati pola-pola dan hukum yang terjadi di alam ini, membuat kita dapat mengambil makna kehidupan yang penting untuk pengembangan diri kita sendiri maupun orang lain. Tidak heran jika sekarang banyak berkembang ilmu-ilmu baru yang semuanya bermuara pada back to basic, back to nature, back to the essentials. Berikut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alam semesta ternyata banyak memberikan kita pembelajaran. Mencermati pola-pola dan hukum yang terjadi di alam ini, membuat kita dapat mengambil makna kehidupan yang penting untuk pengembangan diri kita sendiri maupun orang lain. Tidak heran jika sekarang banyak berkembang ilmu-ilmu baru yang semuanya bermuara pada <strong>back to basic</strong>, <strong>back to nature</strong>, <strong>back to the essentials</strong>.</p>
<p>Berikut ini Tujuh Hukum Alam Semesta yang penting untuk kita ketahui, disarikan dari salah satu bab dari buku <em>The Eureka Principle </em>karangan Colin Turner (pengarang buku bestseller Born to Succeed)<br />
<span id="more-328"></span><br />
<strong>1. Hukum Sebab dan Akibat</strong><br />
Hukum ini merupakan hukum kehidupan yang fundamental. Segala sesuatu yang terjadi pada diri kita memiliki sebab khusus. Pemikiran adalah sebab, dan kondisi adalah akibatnya. Maka apapun pemikiran yang Anda tebarkan akan berkulminasi pada suatu tindakan yang menimbulkan akibat. Inilah padanan mental dari hukum fisika Newton bahwa “setiap aksi akan menimbulkan reaksi yang sebanding dan berkebalikan”, dan hukum ini berlaku dengan prinsip yang sama.</p>
<p>Karena hukum alam tidak bisa dipastikan, maka penting bagi Anda untuk mengingat apa yang Anda inginkan dan bukan apa yang tidak Anda inginkan. Kualitas berbagai hubungan, misalnya, merupakan hasil dari apa yang telah Anda tebarkan dalam hubungan-hubungan tersebut.</p>
<p><strong>2. Hukum Daya Tarik</strong><strong><br />
</strong>Apa yang secara dominan Anda pikirkan akan menarik orang-orang dan lingkungan yang harmonis dengan pikiran-pikiran itu ke dalam kehidupan (seperti yang dikatakan dalam Law of Attraction). Secara metafisik, makin besar vibrasi yang Anda keluarkan, makin besar daya tariknya. Proses ini mirip dengan Hukum Resonansi.</p>
<p>Anda selalu menarik semua hal yang Anda pikirkan, baik itu positif maupun negatif. Akal sehat senantiasa mengatakan apa yang sebaiknya Anda kerjakan, meskipun seringkali terdapat kesepakatan yang mencegah Anda untuk melakukannya.</p>
<p><strong>3. Hukum Kreativitas</strong><br />
Di luar dua energi interaktif, yin dan yang, jantan dan betina, muncul energi yang ketiga. Terdapat pasokan ide yang melimpah ruah, yang siap untuk Anda ubah, dan seluruhnya secara dramatis akan mengembangkan potensi, kebahagiaan, dan sukses Anda. Segala hal yang tercipta di dunia ini adalah hasil interaksi kedua energi yang saling bertentangan, tapi saling melengkapi.Keduanya berada dalam diri kita, tapi hanya akan efektif jika dimanfaatkan dan diseimbangkan.</p>
<p><strong>4. Hukum Substitusi</strong><br />
Anda tidak bisa sekadar berhenti melakukan sesuatu. Keinginan kuat atau ketetapan hati sebesar apapun tidak akan tahan dengan kekosongan atau kevakuman yang terjadi terus- menerus. Untuk menghentikan suatu kebiasaan atau sikap, Anda mesti mencari penggantinya. Gantikan pemikiran tentang apa yang tidak Anda inginkan dengan pemikiran tentang apa yang Anda inginkan. Tidak ada sesuatu yang bisa menghilang sama sekali: sesuatu tersebut harus digantikan atau disalurkan ulang dengan substitusi.</p>
<p><strong>5. Hukum Pelayanan</strong><br />
Berhentilah melayani orang lain dengan cara yang sebenarnya tidak Anda inginkan, karena imbalan yang Anda peroleh akan selalu sama dengan pelayanan Anda. Memberi perlakuan kepada orang lain di balik meja dengan cara yang sama dengan di depan meja, pada akhirnya akan berlangsung dengan prinsip yang sama. Anda akan selalu diimbali dengan proporsi yang persis sama dengan nilai dari layanan Anda kepada orang lain.</p>
<p><strong>6. Hukum Penggunaan</strong><br />
Kekuatan alami apapun, bakat atau talenta, akan mengalami kemandekan jika tidak digunakan. Sebaliknya, akan menjadi semakin kuat jika makin sering dimanfaatkan.</p>
<p>Ilustrasi yang sangat baik digambarkan dalam kisah seorang tua yang memperlihatkan kepada Rossetti -si pelukis terkenal- beberapa lukisan yang baru saja dibuatnya pada masa pensiun. Rossetti dengan sopan menjawab bahwa lukisan-lukisan itu biasa-biasa saja. Si lelaki tua kemudian memperlihatkan beberapa lukisan lain yang dibuat oleh seseorang yang lebih muda. Rossetti langsung memuji dan mengatakan bahwa di pelukis ini tentu sangat berbakat. Melihat orang tua itu memperlihatkan gejolak emosi, Rossetti pun bertanya apakah yang melukis itu anaknya. “Bukan. Itu lukisan saya sendiri sewaktu muda. Tapi saya tergoda untuk melakukan hal yang lain dan melupakan bakat melukis saya”, jawab si lelaki tua.</p>
<p>Bakat si lelaki tua telah melenyap. Manfaatkanlah, atau Anda akan kehilangan kekuatan alami itu.</p>
<p><strong>7. Hukum Tujuh</strong><strong><br />
</strong>Urut-urutan kejadian berjalan mengikuti Hukum Tujuh atau Hukum Oktaf. Saat not atau nada dasar dimainkan, setiap not diulang bunyinya beberapa kali dan kemudian menghilang intensitasnya. Hukum Tujuh berarti bahwa tidak ada kekuatan yang terus-menerus bekerja dengan arah yang sama. Setiap kekuatan bekerja dalam kurun waktu tertentu, kemudian menghilang intensitasnya, lalu berubah arah atau mengalami perubahan internal.</p>
<p>Tidak satu pun di alam ini yang berkembang mengikuti garis yang lurus. Dan demikian pula dengan kehidupan Anda. Tapi setelah Anda bisa menyesuaikan diri dengan prinsip-prinsip i tu, Anda mengalir mengikuti arusnya, bukannya berlawanan.</p>
<p>Hukum Tujuh memperlihatkan bahwa tak ada satu pun kekuatan yang cuma berkembang ke satu arah, dan bahwa energi terus berkembang bahkan di tengah rintangan dan interval. Sebagaimana oktaf, segala sesuatu dalam kehidupan ini berjalan dengan vibrasi. Tanpa vibrasi takkan ada gerakan, dan dengan demikian tak ada aktivitas yang bisa berjalan dengan cara apa pun juga.</p>
<p>Nah, saatnya kita memanfaatkan keinginan, potensi, bakat dan talenta diri kita untuk mencapai hidup yang sepenuhnya… dengan belajar dari hukum dan prinsip-prinsip yang sudah diajarkan sendiri oleh alam semesta ini.</p>
<p>Note : tulisan ini pernah dimuat di <a href="http://www.tranceformasiindonesia.com">www.tranceformasiindonesia.com</a> (TI), krn perubahan web TI, tulisan ini tidak bisa diakses lagi. tulisan ini saya posting kembali disini, smg (tetap) bermanfaat&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inspiratio.web.id/?feed=rss2&amp;p=328</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Seven Year Itch” on Your Work Life</title>
		<link>http://www.inspiratio.web.id/?p=336</link>
		<comments>http://www.inspiratio.web.id/?p=336#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jul 2010 05:39:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anna</dc:creator>
				<category><![CDATA[HRD, Training & Organisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Management Series]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inspiratio.web.id/?p=336</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sebuah kesempatan seminar Himpunan Pengelola SDM Indonesia (HPSMI) tanggal 21 Mei 2008 oleh Bapak Widyarto Adi PS (Pudisklat Kelompok Kompas-Gramedia, Jakarta) dengan topik “Enhancing Motivation Training: Basic Mentality – Explore Your Own Excellence”, saya tertarik dengan istilah “Seven Year Itch”. Pembahasan Pak Wid (demikian sapaan akrab untuk beliau) soal “Seven Year Itch” bahwa ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam sebuah kesempatan seminar Himpunan Pengelola SDM Indonesia (HPSMI) tanggal 21 Mei 2008 oleh Bapak Widyarto Adi PS (Pudisklat Kelompok Kompas-Gramedia, Jakarta) dengan topik <em>“Enhancing Motivation Training: Basic Mentality – Explore Your Own Excellence”</em>, saya tertarik dengan istilah<strong> “Seven Year Itch”.</strong> Pembahasan Pak Wid (demikian sapaan akrab untuk beliau) soal “Seven Year Itch” bahwa ada kecenderungan produktivitas berubah (menurun) setelah karyawan bekerja 7 tahun.</p>
<p>Sekilas Pak Wid juga menceritakan asal muasal istilah ”Seven Year Itch”. Kemudian saya telusuri  beberapa situs untuk memperdalam lagi apa itu fenomena “Seven Year Itch”.<span id="more-336"></span>Istilah ”Seven Year Itch” merujuk pada dorongan suami atau istri untuk mulai menyimpang (bisa dalam bentuk penyelewengan, perselingkuhan, penurunan kadar cinta dan perhatian) dari pasangannya setelah 7 tahun pernikahan. Versi Wikipedia menyebutkan sebagai fenomena disaat mata suami/istri mulai ”mengembara” alias lirik-lirik ke lawan jenis yang bukan pasangan yang sudah dinikahi selama 7 tahun.</p>
<p>Fenemona ini dicetuskan oleh dramawan Amerika, George Axelrod, dalam sandiwara berjudul ”The Seven Year Itch” (1952) dan selanjutnya dipopulerkan ke dalam versi layar lebar berdurasi 105 menit yang  dibintangi oleh Marilyn Monroe dan Tom Ewell, dengan Billy Wilder sebagai sang sutradara (1955).</p>
<p>(yang ingin mengetahui lebih detil mengenai asal muasal ”The Seven Year Itch” dan versi film-nya, silakan klik <a href="http://www.phrases.org.uk/meanings/seven-year-itch.html">http://www.phrases.org.uk/meanings/seven-year-itch.html</a>, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/The_Seven_Year_Itch">http://en.wikipedia.org/wiki/The_Seven_Year_Itch</a>)</p>
<p>Tentunya bukan soal 7 tahun usia pernikahan yang akan saya bahas (karena usia pernikahan saya belum mencapai angka itu). Namun, soal fenomena ”seven year itch” dalam pekerjaan kita.</p>
<p>Mengutip bahan seminar Pak Wid, ada suatu fenomena menarik sebagai ilustrasi perubahan produktivitas ini. Bukan hanya setelah 7 tahun, namun setelah 7 hari dan 7 bulan juga ada degradasi fenomena di tempat kerja. Dan angka 7 ini tentu sah-sah saja bila kita ganti dengan angka 9, 8, 6, 5&#8230;. atau bahkan 1.</p>
<p>Setelah 7 hari bekerja : <strong>”Wah, mereka amat menghargai kompetensiku”</strong> <em>(waktu itu karena masih karyawan baru, masih semangat tinggi, dan segala ide, usulan dan hasil pekerjaan dianggap yang terbaik dan diberi apresiasi)</em></p>
<p>Setelah 7 bulan bekerja : <strong>”Lha usul kayak gitu kok diterima <em>seh</em>!”</strong> <em>(7 bulan bekerja mulai terasa ada ketidaksamaan pendapat dan mulai ada nilai-nilai subyektifitas terhadap rekan, atasan, bawahan)</em></p>
<p>Setelah 7 tahun bekerja : <strong>”Dasar departemen bego! Usulku diterima terserah, gak juga gak <em>patheken</em>!!</strong> <em>(setelah 7 tahun bekerja dan naik jabatan ke level Manager, adanya perbedaan bisa menimbulkan amarah dan sentimen pribadi, dan selanjutnya mematikan produktivitas)</em></p>
<p>Menyambung tulisan saya sebelumnya tentang <strong>All About Passion</strong> (Bobby, thanks for appreciating), setelah 7 tahun bekerja,<em> passion</em> kita dalam bekerja mengalami penurunan. Antusiasme, keinginan untuk menunjukkan prestasi dan aktualisasi diri sudah tidak sama seperti masa-masa yang kita lalui di tahun-tahun pertama bekerja. Sehingga di tahun-tahun berikutnya karyawan bekerja, Departemen HRD mulai mencari-cari topik seminar motivasi kerja, mencari motivator handal untuk <em>re-charge</em> semangat kerja karyawan atau menambah koleksi buku-buku motivasi sebagai bahan bacaan untuk karyawannya.</p>
<p>Sebagai karyawan yang sedang mengalami masa-masa “seven year itch” ini apa yang sebaiknya kita lakukan?</p>
<p>1. <strong>Sadarilah bagaimana produktivitas Anda sekarang dan carilah penyebabnya</strong></p>
<p>Hal pertama yang harus Anda lalukan adalah menyadari bahwa <em>passion</em> Anda sudah tidak sama seperti waktu Anda pertama kali bekerja (apalagi selama masa percobaan!).</p>
<p>Tidak dipungkiri pasti ada perubahan dalam produktivitas Anda. 7 tahun bukan masa yang singkat, karena selama 7 tahun pasti banyak peristiwa hidup yang Anda alami secara pribadi maupun dalam perjalanan karir. Peristiwa ini langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi produktivitas Anda. Carilah penyebabnya! Setiap tindakan adalah manifestasi dari sekumpulan <em>drive</em>, <em>motive</em>, dan respon dari suatu sebab.</p>
<p>Sebelum Anda dipanggil oleh pihak HRD untuk dikonseling atau diajak bicara oleh Atasan Anda, sadarilah bagaimana produktivitas Anda sendiri.</p>
<p>2. <strong>Ingatlah kembali motivasi dan tujuan kerja Anda!</strong></p>
<p>Tanyakan kembali, apa yang mendorong Anda (<em>push factors</em>) untuk memilih bekerja atau memilih menduduki posisi pekerjaan ini. Alasan ini dapat mengingatkan Anda kembali dan membawa Anda untuk kembali <em>on the right track</em>, kepada kinerja yang Anda tunjukkan sewaktu <em>passion</em> Anda sangat baik dan nilai evaluasi kerja Anda masuk dalam kategori B (Baik).</p>
<p>Ingatlah juga dengan tujuan yang ingin Anda capai (<em>pull factors</em>) dengan keberadaan Anda di Perusahaan sekarang ini. Membaca buku-buku motivasi, mengikuti seminar/training motivasi, sharing dengan rekan kerja, mendengarkan nasihat-nasihat motivasi bisa membantu Anda untuk me<em>re-fresh</em> kembali motivasi dan tujuan kerja Anda.</p>
<p><strong>3. Carilah jawaban dari ”seven year itch” Anda saat ini, di tempat Anda bekerja</strong></p>
<p>Setelah Anda menyadari dan mengetahui penyebab fenomena ”seven year itch” Anda, carilah jawabannya segera di tempat Anda bekerja.</p>
<p>Tidak salah jika apa yang Anda cari sewaktu Anda pertama kali menginjakan kaki di dunia karir  berbeda 180 derajat dengan apa yang Anda cari saat ini. Carilah jawabannya. Minimal kemungkinan-kemungkinan atau potensi yang membuat Anda dapat dapat segera menemukan apa yang Anda cari di tempat kerja Anda. Yang Anda cari adalah sesuatu yang bisa membuat Anda kembali menampilkan kinerja dan produktivitas yang tinggi. Seperti saat Anda pertama kali merasakan maksimal, optimal, penuh dedikasi.</p>
<p>Diskusikan dengan Atasan Anda atau dengan pihak HRD. Bila yang Anda cari akan segera terjawab di tempat Anda bekerja, tentu tidak ada alasan lagi untuk terlalu lama menikmati ”seven year itch” Anda.</p>
<p>Namun, bila yang Anda cari tidak diketemukan, segeralah ambil keputusan. Jangan biarkan Perusahaan menjadi korban ”seven year itch” Anda. Atau bisa jadi Perusahaan yang lebih dahulu memberikan Anda tindakan karena Anda berlama-lama dengan ”seven year itch” Anda sendiri.</p>
<p>”Seven Year Itch” bisa menghampiri kita, dimana saja, kapan saja, tidak perlu menunggu sampai masa kerja 7 tahun. Mulai menurunnya produktivitas, mulai jenuh di Perusahaan, mulai sering berkonflik, mulai mencari-mencari kesempatan di Perusahaan atau ladang kerja lain hanyalah sebagian kecil dari manifestasi fenomena ini.</p>
<p>Yang terpenting Anda tidak berlarut di dalamnya, dan tidak ada dampak yang bisa merugikan baik bagi tempat kerja maupun untuk Anda sendiri dan tim kerja Anda.</p>
<p>Bila suatu saat ”seven year itch” menghampiri Anda, ingatlah dengan tips diatas. Jangan larut didalamnya, dan jangan sampai menjadi ”all the years itch” sampai akhir dari karir Anda.</p>
<p>Note : tulisan ini pernah dimuat di <a href="http://www.tranceformasiindonesia.com">www.tranceformasiindonesia.com</a> (TI), krn perubahan web TI, tulisan ini tidak bisa diakses lagi. tulisan ini saya posting kembali disini, smg (tetap) bermanfaat&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inspiratio.web.id/?feed=rss2&amp;p=336</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Betul&#8230;betul&#8230;betul&#8230;&#8221;</title>
		<link>http://www.inspiratio.web.id/?p=320</link>
		<comments>http://www.inspiratio.web.id/?p=320#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jun 2010 08:53:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Galeri Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inspiratio.web.id/?p=320</guid>
		<description><![CDATA[Tentu Anda tidak asing dengan kata “betul” yang diucapkan sebanyak tiga kali oleh seorang tokoh kartun bocah kecil dengan nada suara yang jenaka. Upps! Kok tiba-tiba jadi tertarik dengan kartun ya? Semuanya berawal dari rasa penasaran saya dengan celotehan anak kecil, pajangan tokoh kartun di banyak toko dan perempatan jalan, atau tulisan di situs jejaring [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.inspiratio.web.id/wp-content/uploads/2010/06/ipin.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-321" title="ipin" src="http://www.inspiratio.web.id/wp-content/uploads/2010/06/ipin-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Tentu Anda tidak asing dengan kata “betul” yang diucapkan sebanyak tiga kali oleh seorang tokoh kartun bocah kecil dengan nada suara yang jenaka. Upps! Kok tiba-tiba jadi tertarik dengan kartun ya? Semuanya berawal dari rasa penasaran saya dengan celotehan anak kecil, pajangan tokoh kartun di banyak toko dan perempatan jalan, atau tulisan di situs jejaring sosial yang mengatakan “betul&#8230;betul&#8230;betul&#8230;”. Jadi kepingin tahu, kok laris manis ya kata “betul&#8230;betul&#8230;betul&#8230;” ini.. hmm siapa sih yang mengucapkannya? Seperti apa kartunnya?</p>
<p>Kata “Betul&#8230;betul&#8230;betul&#8230;” adalah kata yang diucapkan oleh tokoh kartun itu bernama Ipin. Dia adalah saudara kembar Upin, dalam kartun Upin &amp; Ipin (dan kawan-kawan), yang disiarkan di TV9, TPI dan Disney Channel (<a href="http://www.upindanipin.com.my/">www.upindanipin.com.my</a>). Serial kartun bernuansa Islami yang diproduksi negara tetangga, Malaysia. Cerita kartun yang menggambarkan dunia khas anak-anak lengkap dengan keusilan, kenakalan, perbuatan baik, nasihat dan moral cerita yang layak ditonton oleh anak-anak ini, selalu identik dengan kata “betul&#8230;betul&#8230;betul&#8230;”.<br />
<span id="more-320"></span></p>
<p>Tapi, bukan sekedar kata “betul&#8230;betul&#8230;betul&#8230;” yang diucapkan dengan jenaka oleh Ipin ketika membenarkan dan mendukung kalimat Upin. Ternyata dari kata-kata ada sebuah pesan yang bisa saya dapat. Hehee&#8230; bisa-bisanya penulis aja nih. Kan lumayan tuh, nonton film animasi sekaligus dapat pesan dibalik celetukan  yang menjadi <em>icon</em> dari film ini.</p>
<p>Ya, setiap kali Ipin mengucapkan kata “betul” untuk membenarkan atau mendukung kata yang diucapkan orang lain, terutama kakaknya, Upin, dia selalu mengucapkannya sebanyak tiga kali. Tapi, ketika Ipin mengucapkan kata atau jargon negatif, dia hanya mengucapkannya satu kali. Misalnya, “Iiih&#8230;<strong>busuk</strong> kali”, “<strong>nakal</strong>nyaaa&#8230;.”, “Kak Ros ni <strong>cerewet</strong> ya&#8230;”.</p>
<p>Ini pesan yang bisa saya dapat dari icon kata di film Upin &amp; Ipin yang sering ditiru oleh anak-anak dan orang dewasa. Ketika memberikan dukungan atau afirmasi kita <strong>berikan dengan sungguh-sungguh</strong> sehingga orang yang kita berikan dukungan dan afirmasi tahu bahwa kita sedang memberikan dukungan dengan sepenuh hati. Tentunya tidak perlu diucapkan sebanyak tiga kali, seperti layaknya Ipin. Berikanlah dukungan dan afirmasi dan yakinkan orang yang kita beri dukungan tersebut bahwa kita benar-benar mendukungnya dan sedang membuat dia merasa mantap dan yakin dengan dukungan kita.</p>
<p>Bagaimana, Anda setuju kan, kalau dalam memberikan dukungan dan afirmasi terhadap sebuah perbuatan/prinsip/pernyataan yang positif dan bermanfaat, kita lakukan <strong>dengan sungguh-sungguh dan mantap sehingga orang lain akan merasakan dukungan kita</strong>? “Setuju&#8230;setuju&#8230;setuju&#8230;”. Hmmm&#8230; memang lebih enak sih kalau diganti dengan : “betul&#8230;betul..betul&#8230;” J</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inspiratio.web.id/?feed=rss2&amp;p=320</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Trainer di Usia Muda, why not?</title>
		<link>http://www.inspiratio.web.id/?p=318</link>
		<comments>http://www.inspiratio.web.id/?p=318#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2010 05:06:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Galeri Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[HRD, Training & Organisasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inspiratio.web.id/?p=318</guid>
		<description><![CDATA[Sore itu saya sedang berbincang-bincang soal training dengan seorang rekan yang juga berprofesi sebagai trainer. Usianya masih tergolong muda, terlebih karena usianya memang lebih muda dari saya beberapa tahun. Eh, kalau saya sih menganggap usia saya masih muda lho&#8230; ukurannya sih dari teori tahap perkembangan usia 21-35 tahun adalah Dewasa Awal (ada juga teori yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sore itu saya sedang berbincang-bincang soal training dengan seorang rekan yang juga berprofesi sebagai trainer. Usianya masih tergolong muda, terlebih karena usianya memang lebih muda dari saya beberapa tahun. Eh, kalau saya sih menganggap usia saya masih muda lho&#8230; ukurannya sih dari teori tahap perkembangan usia 21-35 tahun adalah Dewasa Awal (ada juga teori yang mengatakan usia 18-35 tahun), setelah melewati usia Remaja dan sebelum masuk ke tahap Dewasa.</p>
<p>“Jadi trainer seumur kita ini susah susah gampang ya?” demikian rekan saya, sebut saja bernama Dimas, memulai sharingnya. “Pernah suatu saat, waktu aku ngasi training di sebuah perusahaan, dan ketika ditanya berapa umurku sekarang, si pimpinan perusahaan itu terheran-heran. Kemudian setelah dia tahu umurku, dan aku baca <em>body languagenya</em> serta melakukan <strong>kalibrasi</strong>, keliatan deh kalau dia mulai kurang antusias. Padahal sebelum dia tanya soal umur, dia semangat lho menyimak training. Emang ada hubungannya ya antara usia muda dengan keyalakan menjadi trainer?”<br />
<span id="more-318"></span></p>
<p>Oiya, mungkin ada yang belum familiar dengan istilah “<strong>kalibrasi</strong>” yang umum dipakai di NLP. <strong>Kalibrasi</strong> artinya mengamati ekspresi tingkah laku dan mengasosiasikan tingkah laku itu dengan respon internalnya. Gampangnya, kalibrasi adalah aktivitas observasi terhadap perilaku dan mengasosiasikan dengan kondisi internal –perasaan- yang dialami.</p>
<p>Si Dimas melanjutkan lagi pengalamannya.</p>
<p>“Pernah juga nih seorang peserta training memberikan komentar. Dia bilang, wah masih muda kok mau ngasi training ke peserta yang udah lebih banyak pengalaman, apa pantas tuh?”</p>
<p>Bukan hanya Dimas yang pernah mengalami pengalaman mendapatkan respon yang kurang kondusif dan supportif, ketika seseorang mengaitkan usia muda dengan kepantasan atau kelayakan menjadi trainer. Beberapa rekan saya yang juga memilih berkarir sebagai trainer di usia yang tergolong muda rata-rata pernah mengalami pengalaman dianggap kurang pantas memberikan training kepada peserta yang usianya lebih tua dan tentunya lebih banyak mengalami peristiwa hidup. Sebenarnya ada gak sih hubungan antara usia dengan kelayakan menjadi trainer? Hayooo&#8230;.??</p>
<p>Bagaimana dengan pengalaman saya sendiri? Ketika memutuskan untuk menjalani hobi saya di dunia training, dan belajar dari pengalaman rekan sebaya yang telah lebih dahulu menjadi trainer, saya pun merasa perlu mempersiapkan diri terhadap kemungkinan respon peserta soal usia saya. Ada beberapa hal yang biasanya saya lakukan untuk mengantisipasi dan untuk meyakinkan diri saya dan juga peserta training bahwa menjadi trainer di usia muda itu pantas-pantas saja, sah-sah saja. Ini yang biasanya saya lakukan :</p>
<p><span style="color: #000080;"><strong>1.      </strong><strong>Berikan informasi profile diri (keahlian, spesialisasi, sertifikasi) termasuk usia kita</strong></span></p>
<p>Kita boleh muda (siapa yang bilang gak boleh ya? J), tapi keahlian maupun sertifikasi yang kita miliki tentunya memiliki <em>value added</em> untuk menambah kredibilitas kita. Dari segi pengalaman di dunia riil atau lingkup organisasi/pekerjaan para peserta training, dapat dipastikan kita yang muda masih belum bisa menyamakan kuantitas pengalaman para peserta. Nah, berbekal keahlian, spesialisasi dan hasil belajar kita terhadap suatu <em>skill</em> tertentu secara intens, kita sudah punya satu <em>selling point</em> untuk bisa tampil di depan peserta. Tapi, kalau kita belum punya suatu keahlian tertentu, tidak mendalami suatu skill atau materi tertentu, dan terlebih tidak memiliki kemampuan berbicara di depan kelas&#8230; waduh, gawat euuy!!</p>
<p>Menyebutkan usia saya saat ini pasti saya lakukan di awal sesi training. Tujuannya, supaya peserta tidak bertanya-tanya lagi berapa usia trainer yang saat ini ada di depan mereka. Dan setelah menyebutkan usia saya, saya sekaligus menambahi kalimat, misalnya, “Usia saya masih muda ya, pasti lebih muda dari beberapa atau sebagian besar peserta training disini. Orang bilang usia muda itu usia produktif, sedang giat-giatnya, banyak waktu untuk menambah keahlian dan waktu yang tepat untuk belajar dan bisa sharing ke banyak orang”. Nah, dengan melakukan <em>reframing</em> seperti itu, tentu saya berharap peserta tidak melakukan ‘<em>blocking</em>’  soal usia dan mereka akan berpikir “it’s ok lah –age doesn’t matter-, let see how the trainer share her/his idea”.</p>
<p><span style="color: #000080;"><strong>2.      </strong><strong>Ubahlah fokus jika ada komentar soal usia</strong></span></p>
<p>Sekali lagi, jika ada peserta yang mengomentari usia kita dengan komentar tidak membangun, kita tidak perlu terfokus dan apalagi tersinggung dengan komentar tersebut. Membahas sisi lainnya ditambah sedikit humor atas komentar soal usia adalah pilihan yang lebih baik. Saya pernah mengalami komentar soal usia ini.</p>
<p>“Wah, usia Mbak sama dengan anak saya nih”, komentar salah satu peserta training yang terlihat paling senior diantara peserta training lainnya.</p>
<p>“Lho, memang usia Bapak berapa?”  saya balik bertanya.</p>
<p>“52 tahun”</p>
<p>“Ooh, Bapak 52 tahun, sedangkan saya 33 tahun&#8230; ngg.. berarti Bapak sudah memiliki anak di usia 19 tahun, dan kemungkinan Bapak menikah di usia 18 tahun. Kalau sekarang kayaknya jarang banget Pak yang menikah di usia 18&#8230;..”.</p>
<p>Dengan respon yang saya berikan ini, akhirnya si pemberi komentar tidak lagi terfokus soal usia saya (yang masih muda). Peserta lain pun akhirnya tidak ikut terfokus di usia, tapi di soal menikah di usia muda. Namun, merespon komentar seperti itu dengan cara yang tepat ya, jangan sampai kita akhirnya malah menghakimi peserta yang menikah di usia muda. Ingat, kita sedang jadi trainer, bukan hakim.</p>
<p><span style="color: #000080;"><strong>3.      </strong><strong>Humble&#8230; humble and humble</strong></span></p>
<p><em>Be humble to trainee!</em> Kebanyakan peserta training respek ke trainer jika ia menjaga sikap rendah hati meskipun dari segi keahlian si trainer memiliki suatu <em>value added</em> yang belum dimiliki peserta. Jangan lupa katakan maaf jika ada <em>slip of tongue</em> atau ada kesalahan dalam penyampaian suatu materi. Jangan pernah merasa tinggi hati! Jangan pula terlalu membangga-banggakan keahlian dan pengalaman kita. Jual <em>selling point</em> kita tetap dengan cara yang <em>humble</em> dan sederhana. Sikap ini perlu terus menerus kita internalisasi dalam diri kita. Jangan kita berpura-pura rendah hati hanya dengan ucapan verbal, tapi ekspresi dan mimik kita menunjukkan sikap sombong dan arogan. Ini mah lain di ucapan lain di pikiran. Orang bilang gak kongruen tuh.</p>
<p><span style="color: #000080;"><strong>4.      </strong><strong>Persiapan diri dengan maksimal</strong></span></p>
<p>Apapun bisa terjadi dalam sebuah training. Meskipun sudah berkali-kali memberikan materi training yang sama, tetap persiapkan diri kita untuk mempelajari materi dan bahan training. Sekaligus berikan variasi dan kreativitas kita pada topik training yang sama. Tambahkan beberapa slide yang baru, berikan <em>games</em> atau <em>ice breaking</em> yang berbeda dari sebelumnya. Bukan hanya peserta training yang senang, kita sebagai trainer juga lebih produktif dan kreatif, meskipun peserta training sendiri tidak tahu bahan training yang pernah kita berikan untuk kelompok peserta yang lain.</p>
<p><span style="color: #000080;"><strong>5.      </strong><strong>Gali pengalaman dari peserta yang lebih senior</strong></span></p>
<p>Kebanyakan modal yang dimiliki trainer yang berusia muda adalah suatu keahlian atau spesialisasi di bidang tertentu, terutama dengan ilmu/wacana baru yang sedang berkembang saat ini. Perkayalah bahasan tentang ilmu/wacana yang kita sharingkan itu dengan menggali pengalaman dari peserta yang lebih senior (usianya). Dengan demikian, selain peserta yang senior merasa dihargai, kita pun sebagai trainer punya tambahan wacana baru lagi mengenai aplikasi dan contoh riil dalam praktek.</p>
<p>Apa lagi ya yang biasanya saya lakukan dengan konsekuensi menjadi menjadi trainer di usia yang muda? Mungkin ada lagi yang saya lakukan, tapi bisa jadi dilakukan secara <em>unconsicous (competence)</em>. Nanti kalau saya ingat, saya tambahkan sharing saya lagi.</p>
<p>So, menurut saya pantas-pantas saja kok menjadi trainer di usia muda&#8230; asalkan kita <strong>memantaskan diri kita, punya bekal yang memadai dan menjaga sikap kita</strong>. Muda bukan halangan untuk berkarya. Muda bukan hambatan untuk berbagi. Justru masa muda adalah saat yang tepat untuk menabur, untuk menggali potensi, untuk berkreasi dan &#8230; masa muda adalah saat  yang paling indah untuk berkarya, bukan?</p>
<p>-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inspiratio.web.id/?feed=rss2&amp;p=318</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kulit Kerang yang Terbuka</title>
		<link>http://www.inspiratio.web.id/?p=304</link>
		<comments>http://www.inspiratio.web.id/?p=304#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Apr 2010 04:27:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Galeri Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Metaphora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inspiratio.web.id/?p=304</guid>
		<description><![CDATA[Satu kantong plastik berisi kerang yang masih hidup siap untuk dimasak. Beberapa dari kerang itu berteriak, “Uuuh, mau diapakan sih kita ini? Tadi kan kita sedang asyik berjemur di pantai, kemudian kita diambil oleh nelayan. Dan sekarang kita sudah ada di tangan seorang ibu. Wah, perjalanan kita sehari ini sudah melewati tiga tempat yang berbeda”. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.inspiratio.web.id/wp-content/uploads/2010/04/Kerang.jpg"></a><a href="http://www.inspiratio.web.id/wp-content/uploads/2010/04/Kerang1.jpg"><img class="size-full wp-image-308 alignleft" title="Kerang" src="http://www.inspiratio.web.id/wp-content/uploads/2010/04/Kerang1.jpg" alt="" width="100" height="83" /></a>Satu kantong plastik berisi kerang yang masih hidup siap untuk dimasak. Beberapa dari kerang itu berteriak, “Uuuh, mau diapakan sih kita ini? Tadi kan kita sedang asyik berjemur di pantai, kemudian kita diambil oleh nelayan. Dan sekarang kita sudah ada di tangan seorang ibu. Wah, perjalanan kita sehari ini sudah melewati tiga tempat yang berbeda”. Kerang lain menjawab, “Yah kita sudah bisa menebak kan akan seperti apa nasib kita jika kita sudah ditangkap oleh nelayan dan dijual. Tidak lama lagi kita menjadi santapan manusia. Oooh, nasib.. ya nasib”.</p>
<p><span id="more-304"></span>Seorang ibu mencuci kerang itu sampai bersih. Sesekali beberapa kerang menjulurkan kepalanya, “Kita dimandikan nih! Sepertinya kita dibersihkan dulu sebelum disantap oleh manusia”. Kerang-kerang itu hendak melihat dunia luar untuk terakhir kalinya sebelum ia menjadi santapan manusia. Sesaat setelah melihat keluar, kepala kerang itu masuk kembali, menikmati kenyamanan rumahnya yang kokoh dan keras bak beton yang sulit dipecahkan. “Sebenarnya kita ini diciptakan untuk menikmati rumah kita yang kokoh ini kan? Bukannya Tuhan itu sudah adil. Kita yang lemah dan kecil ini diberikan rumah yang kokoh agar kita tidak gampang mati terinjak anak-anak pantai atau hanyut terbawa arus laut yang maha dasyat itu. Bagaimana ya caranya mempertahankan rumah kita yang kokoh ini?”, beberapa kerang mulai gelisah dengan nasib selanjutnya.</p>
<p>Kemudian, seorang ibu mengambil panci dan  mengisi setengahnya dengan air. Direbusnya air itu sampai mendidih, kemudian dimasukkannya kerang-kerang itu dalam panasnya air yang sedang bergejolak.</p>
<p>Satu menit. Dua menit. Tiga menit berlalu. Perlahan, oleh karena panasnya air dalam panci, satu per satu terbukalah kulit kerang yang awalnya tertutup rapat itu. Dan kemudian terciumlah aroma yang lezat dari kerang rebusan ini. Nyaaammm&#8230;. sungguh menggoda selera. Dari balik kulit kerang yang terbuka ini nampaknya tubuh dan seluruh isi kerang yang siap dimakan menjadi santapan yang lezat.</p>
<p>Kini kulit-kulit kerang yang sudah terbuka siap dihidangkan diatas piring. Ibu beserta keluarganya dengan mudah dapat mengambil isi kerang di dalam rumah kerang dan menyantapnya. Aromanya&#8230;.?? hmmm nikmat dan yang pasti membuat kenyang.</p>
<p>Untunglah kerang dalam satu kantong plastik tadi mau membuka kulitnya yang awalnya tertutup rapat. Apa yang terjadi seandainya kerang-kerang tadi mempertahankan rumahnya dan tidak mau membuka rumahnya? Tentu kelezatan dalam dirinya tidak akan pernah diketahui dan dinikmati oleh manusia.  </p>
<p><span style="color: #808080;"><em>Ketika kita memutuskan untuk membuka diri kita, maka semakin terlihatlah potensi diri kita. Kecantikan dan ketampanan kita yang sesungguhnya akan terpancar. Dan kita pun menjadi semakin indah dan bermanfaat bagi sesama.</em></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inspiratio.web.id/?feed=rss2&amp;p=304</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masalah dan Buah Mangga</title>
		<link>http://www.inspiratio.web.id/?p=292</link>
		<comments>http://www.inspiratio.web.id/?p=292#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Mar 2010 01:05:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Galeri Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Metaphora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inspiratio.web.id/?p=292</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari, seorang wanita muda datang ke seorang konselor. Wanita itu tidak sanggup lagi menghadapi cobaan yang ia hadapi. Ia menceritakan semua beban masalahnya, berharap si konselor dapat membantunya memecahkan masalah yang menghantuinya saat ini.   Singkat cerita, masalah yang dialami wanita muda itu adalah intimidasi, teror dan tekanan yang ia terima, baik melalui sms, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma; mso-ansi-language: IT;">Suatu hari, seorang wanita muda datang ke seorang konselor. Wanita itu tidak sanggup lagi menghadapi cobaan yang ia hadapi. Ia menceritakan semua beban masalahnya, berharap si konselor dapat membantunya memecahkan masalah yang menghantuinya saat ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma; mso-ansi-language: IT;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma; mso-ansi-language: IT;">Singkat cerita, masalah yang dialami wanita muda itu adalah intimidasi, teror dan tekanan yang ia terima, baik melalui sms, e-mail maupun telpon. Suami wanita muda itu baru saja memecat sekretarisnya, karena terbukti melakukan penggelapan uang kantor. Selama ini si sekretaris dianggap jujur dan dapat diandalkan, namun karena terbukti melakukan kesalahan yang dikategorikan pelanggaran berat di kantornya, akhirnya PHK adalah satu-satunya pilihan untuk memberikan <em>punishment</em>. Si sekretaris ini tidak bisa melawan ketika vonis PHK menghampirinya. Namun, karena masih dendam dan tidak menyangka kalau atasannya akan bertindak tegas dan langsung mem-PHK, kemudian ia melakukan teror kepada istri atasannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma; mso-ansi-language: IT;"><span id="more-292"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma; mso-ansi-language: IT;">Kepada si konselor, wanita muda ini sudah tidak tahan lagi dengan segala teror dan tekanan yang ia hadapi. Dan semuanya ini ia simpan sendiri, tidak pernah sekalipun diceritakan kepada suaminya. Menurutnya, jika ia ceritakan kepada suaminya, hal ini akan menambah beban pikiran dan bisa mengganggu konsentrasi kerjanya. Mulai dari cacian, umpatan, gosip negatif tentang suaminya hampir memenuhi isi sms dan e-mail. Belum lagi telpon yang masuk ke <em>handphone</em>nya, dengan nomer yang berbeda-beda sehingga sulit dideteksi yang mana telpon yang berisi teror dan makian itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma; mso-ansi-language: IT;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma; mso-ansi-language: IT;">“Apa yang harus saya lakukan, saya sudah tidak tahan lagi,” demikian wanita muda itu melanjutkan curahan hatinya kepada si konselor, “selama ini saya kan tidak ikut campur dalam keputusan PHK itu, tapi kenapa saya yang kena imbasnya? Apa salah saya?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma; mso-ansi-language: IT;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma; mso-ansi-language: IT;">“Ibu, apakah Ibu menanam pohon mangga di rumah Ibu?”, tanya si konselor.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma; mso-ansi-language: IT;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma; mso-ansi-language: IT;">“Tidak. Saya tidak menamam pohon mangga. Halaman di rumah saya sempit, sehingga saya hanya menanaminya dengan tamanan berbunga yang tidak terlalu besar.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma; mso-ansi-language: IT;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma; mso-ansi-language: SV;">“Tapi, Ibu pernah kan mendapatkan buah mangga? Entah diberikan oleh orang lain sebagai hadiah atau oleh-oleh?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma; mso-ansi-language: SV;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma; mso-ansi-language: SV;">”Oya, pernah, sering malahan. Saudara saya memiliki kebun mangga dan tiap kali panen, ia selalu mengirimkannya kepada saya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma; mso-ansi-language: SV;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma; mso-ansi-language: SV;">”Hmmm&#8230; berarti Ibu tidak menanam mangga, tapi Ibu mendapatkan buah mangga. Ibu tidak ikut merawat, memberi pupuk, memberi air pada pohon mangga itu, tapi Ibu bisa mendapatkan hasilnya bukan?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma; mso-ansi-language: SV;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma; mso-ansi-language: SV;">”Iya benar sekali. Tidak perlu harus memiliki pohon mangga kan untuk bisa mendapatkan mangga itu?”, kali ini wanita muda terheran, kenapa masalahnya tidak dijawab, tetap si konselor malah menanyainya soal mangga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma; mso-ansi-language: SV;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma; mso-ansi-language: SV;">”Itulah yang terjadi dalam hidup ini Bu. Seringkali kita tidak ikut terlibat dalam suatu masalah atau pengambilan keputusan, namun bisa saja kita kena dampaknya. Ibarat mangga tadi. Ibu tidak ikut menanam pohon mangga, tapi bisa mendapatkan buah mangga, dengan cara apapun, dengan alasan apapun. Tidak peduli siapa yang menanam pohon mangga, bagaimana ia merawat dan memelihara pohon mangga itu sehingga bisa menghasilkan buah mangga yang enak dan harum, tapi apa yang kita perlakukan terhadap buah mangga, itulah yang terpenting. Ketika mendapatkan buah mangga yang busuk, segeralah buang dan jangan sampai baunya yang busuk merusak aroma di ruangan rumah. Ketika mendapatkan buah mangga yang masih muda, simpanlah beberapa saat, tunggu sampai benar-benar ranum, kemudian nikmatilah. Dan ketika mendapatkan buah mangga yang ranum, segeralah hidangkan dan nikmatilah. Apa yang terjadi dalam hidup ini kadangkala adalah sesuatu yang tidak pernah kita ketahui sebab dan alasannya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma; mso-ansi-language: SV;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="font-size: 10pt; color: #0000ff; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma;"><span style="color: #808080;"><strong>It’s not the matter of WHY , but HOW</strong></span></span></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inspiratio.web.id/?feed=rss2&amp;p=292</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Hipnotis Lagi Dong&#8230;”</title>
		<link>http://www.inspiratio.web.id/?p=290</link>
		<comments>http://www.inspiratio.web.id/?p=290#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2010 09:20:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aplikasi NLP & Hipnosis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inspiratio.web.id/?p=290</guid>
		<description><![CDATA[“Bu, saya dihipnotis lagi dong&#8230;”. Demikian yang diucapkan salah satu peserta training, sewaktu saya mengakhiri sebuah sesi training di Pacet, Mojokerto. Kalimat ini menjadi kalimat yang sangat saya ingat, ketika saya melakukan sesi training terakhir di bulan Desember, sekaligus training terakhir menutup tahun 2009 kemarin.    Sebagian dari kita mungkin heran dengan kalimat tersebut. Sebagian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma;" lang="IN"><a href="http://www.inspiratio.web.id/wp-content/uploads/2010/01/hipnosis.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-291" title="hipnosis" src="http://www.inspiratio.web.id/wp-content/uploads/2010/01/hipnosis.jpg" alt="" width="150" height="114" /></a>“Bu, saya dihipnotis lagi dong&#8230;”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma;" lang="IN">Demikian yang diucapkan salah satu peserta training, sewaktu saya mengakhiri sebuah sesi training di Pacet, Mojokerto. Kalimat ini menjadi kalimat yang sangat saya ingat, ketika saya melakukan sesi training terakhir di bulan Desember, sekaligus training terakhir menutup tahun 2009 kemarin.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma;" lang="IN">Sebagian dari kita mungkin heran dengan kalimat tersebut. Sebagian lagi menganggapnya hal yang lumrah. Tapi bagi sebagian orang yang masih menganggap hipnotis dengan kesan yang buruk atau hanya merugikan pihak tertentu, jelas-jelas kalimat diatas bikin kita mencibir, ”&#8230;iiih kok mau sih dihipnotis?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma;" lang="IN">Lho, terus kenapa ya peserta tersebut meminta saya untuk menghipnotisnya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma;" lang="IN">Ada kata Hipnotis, ada juga Hipnosis. Sebelumnya, yuk kita <em>clear</em>-kan dulu, apa itu hipnotis dan hipnosis. Biar gak salah persepsi nih. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma;" lang="IN"> <span id="more-290"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma;" lang="IN">Dari beberapa sumber, penjelasan yang menurut saya paling mudah dijelaskan kembali ada di buku <strong><span style="color: blue;">Hypnoparenting</span></strong> karangan <strong>Ariesandi Setyono</strong>. Dalam buku ini dijelaskan apa perbedaan hipnotis dan hipnosis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma;" lang="IN">Hipnotis</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma;" lang="IN"> adalah </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;" lang="IN">keadaan dimana proses hipnosis dilakukan. Hipnotis berarti membuat <span style="mso-spacerun: yes;"> </span>atau menyebabkan seseorang berada dalam keadaan hipnosis</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma;" lang="IN">. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma;" lang="IN">Sedangkan <strong>hipnosis</strong> adalah proses penurunan kondisi kesadaran. Hipnosis adalah kondisi yang kita alami setiap hari, minimal dua kali, yaitu ketika kita akan tidur dan sewaktu akan bangun dari tidur. Hipnosis itu alamiah kok. Setiap orang mengalaminya. Kondisi hipnosis dicapai saat gelombang otak berada di kisaran alpha dan tetha. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma;" lang="IN">Wah, apa pula ini ya? Kok ada gelombang otak segala! Lewat alat EEG (<em>electroencephalograph</em>), diketahui ada 4 frekuensi otak manusia, yaitu Beta, Alpha, Theta dan Delta. Penjelasan detilnya cari di internet ya, atau baca buku-buku yang di judulnya ada unsur kata Hipnotis atau Hipnoterapi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma;" lang="IN">Balik lagi ke topik hipnosis. Hipnosis sebenarnya seni komunikasi yang mengarahkan seseorang menuju suatu kondisi relaksasi, sehingga gelombang otak sedikit demi sedikit turun dan dijaga pada kondisi gelombang alpha dan theta. Ketika hipnosis sudah tercapai, kita akan menjadi rileks secara mental dan perlahan-lahan perhatian dan konsentrasinya menjadi terfokus. Pada saat inilah kita hanya memperhatikan satu stimulus saja. Sugesti atau kata-kata yang diberikan dalam kondisi seperti ini akan langsung direspon dan dijalankan oleh tubuh fisik, selama sugesti tersebut tidak bertentangan dengan nilai (<em>value</em>) yang dipegang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma; mso-ansi-language: SV; mso-bidi-font-style: italic;" lang="SV">Balik yuk ke kalimat paling atas tadi. Yang saya lakukan sehingga muncul kalimat diatas adalah sesi <strong>relaksasi</strong>, mengistirahatkan fisik dan membuat pikiran menjadi rileks. Dan saat pikiran rileks dan terfokus, tugas yang paling penting adalah <strong>memberikan sugesti yang positif dan membangun</strong>. Sugesti bisa datang dari si trainer, atau minta setiap peserta membuat kata-kata positif buat dirinya sendiri, sesuai dengan kondisi yang ingin dituju. Ya, hanya itu. Saya sedang tidak membawakan topik hipnosis sewaktu training ini di Pacet kemarin. Bahkan kata hipnosis juga tidak terlontar dari pembicaraan saya. Kondisi ketika peserta training berada di tempat ’kedamaian’ dan merasakan rasa tenang dan sangat rileks, sambil menginternalisasi sugesti positif itulah </span><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma; mso-ansi-language: SV;" lang="SV">peak condition</span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma; mso-ansi-language: SV; mso-bidi-font-style: italic;" lang="SV"> yang membuat peserta sangat nyaman. Jadi, gak salah kan kalau peserta training minta dihipnotis lagi? Hehehee.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma; mso-ansi-language: SV;" lang="SV"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma; mso-ansi-language: SV;" lang="SV">Above all</span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma; mso-ansi-language: SV; mso-bidi-font-style: italic;" lang="SV">, dari sesi training ini saya bersyukur karena peserta memaknai kata hipnotis dengan tepat dan berkesan positif. Sebab kalau tidak berkesan positif, pasti si peserta training tidak minta dihipnotis kan? Eh salah! Yang terjadi kan sesi relaksasi dan prosesnya menggunakan hipnotis </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings; mso-bidi-font-family: Tahoma; mso-ansi-language: SV; mso-bidi-font-style: italic; mso-ascii-font-family: Tahoma; mso-hansi-font-family: Tahoma; mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: Wingdings;" lang="SV"><span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: Wingdings;">J</span></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma; mso-ansi-language: SV; mso-bidi-font-style: italic;" lang="SV"><span style="mso-spacerun: yes;">  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma; mso-ansi-language: SV; mso-bidi-font-style: italic;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><em><span style="font-size: 8pt; font-family: Tahoma; mso-bidi-font-family: Tahoma;" lang="IN">My big thanks for participant on training PT. ES. It was so unforgetable training session in the end of 2009.</span></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inspiratio.web.id/?feed=rss2&amp;p=290</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
