Inspire people to succeed
Dalam sebuah kesempatan seminar Himpunan Pengelola SDM Indonesia (HPSMI) tanggal 21 Mei 2008 oleh Bapak Widyarto Adi PS (Pudisklat Kelompok Kompas-Gramedia, Jakarta) dengan topik “Enhancing Motivation Training: Basic Mentality – Explore Your Own Excellence”, saya tertarik dengan istilah “Seven Year Itch”. Pembahasan Pak Wid (demikian sapaan akrab untuk beliau) soal “Seven Year Itch” bahwa ada kecenderungan produktivitas berubah (menurun) setelah karyawan bekerja 7 tahun.
Sekilas Pak Wid juga menceritakan asal muasal istilah ”Seven Year Itch”. Kemudian saya telusuri beberapa situs untuk memperdalam lagi apa itu fenomena “Seven Year Itch”. (more…)
Sore itu saya sedang berbincang-bincang soal training dengan seorang rekan yang juga berprofesi sebagai trainer. Usianya masih tergolong muda, terlebih karena usianya memang lebih muda dari saya beberapa tahun. Eh, kalau saya sih menganggap usia saya masih muda lho… ukurannya sih dari teori tahap perkembangan usia 21-35 tahun adalah Dewasa Awal (ada juga teori yang mengatakan usia 18-35 tahun), setelah melewati usia Remaja dan sebelum masuk ke tahap Dewasa.
“Jadi trainer seumur kita ini susah susah gampang ya?” demikian rekan saya, sebut saja bernama Dimas, memulai sharingnya. “Pernah suatu saat, waktu aku ngasi training di sebuah perusahaan, dan ketika ditanya berapa umurku sekarang, si pimpinan perusahaan itu terheran-heran. Kemudian setelah dia tahu umurku, dan aku baca body languagenya serta melakukan kalibrasi, keliatan deh kalau dia mulai kurang antusias. Padahal sebelum dia tanya soal umur, dia semangat lho menyimak training. Emang ada hubungannya ya antara usia muda dengan keyalakan menjadi trainer?”
(more…)
Setelah tulisan sebelumnya tentang pacing-leading beserta contohnya dalam proses tawar-menawar, kali ini saya akan bagikan pengalaman mempraktikkan pacing-leading di area yang lain, yaitu wawancara. Saya mempraktikkan dan belajar untuk menerapkan pacing-leading dengan lebih baik di beberapa kesempatan wawancara, dalam contoh ini adalah wawancara selama proses assessment. Sekali lagi perlu diingat, tujuan melakukan pacing-leading adalah menjalin rapport. Berikut ini aplikasinya.
Masalah peserta yang tidak mau berpartisipasi dalam aktivitas team sudah bisa dipahami, bukan? Sekarang kita tilik masalah berikutnya:
Bagaimana jika peserta tidak mengerti petunjuk yang diberikan?
Tandanya adalah:
· Wajah bingung
· Peserta saling bertanya tentang apa yang harus dilakukan
· Peserta tidak melakukan sesuai harapan
· Tidak ada yang terjadi ketika aktivitas dimulai
· Banyak pertanyaan sebagai klarifikasi
50 Quick Team Building Games karangan Brian Cole Miller. Judul buku setebal 289 halaman ini adalah hadiah dari teman saya, Jumai, sebelum dia melanjutkan kehidupannya di negara asal artis Jang Nara, Korea. Ekspresi senang jelas terlihat di wajah saya saat menerima buku ini. Teman saya yang lain mengatakan: ”Wah, Anna bangeeettt”, ketika melihat buku dengan cover warna putih dengan garis merah di pinggirnya itu berada di tangan saya. ”Buku ini pasti bermanfaat buat saya”, demikian yang saya yakini dan saya katakan kepada si pemberi buku.
Memang tidak salah. Meskipun sudah mengoleksi beberapa buku training dan pengembangan team, ternyata isi buku ini tetap menarik. Ada bagian dari buku ini yang akan saya bagikan disini. Saya ambil dari pengalaman yang saya alami sendiri, atau hasil pengamatan langsung dari aktivitas pengembangan tim yang sering dilakukan.
Selama menjalankan aktivitas pengembangan tim, menyelenggarakan training atau aktivitas berkelompok lainnya, dua dari kejadian ini berpotensi untuk terjadi, atau bahkan sering terjadi.
1. Satu atau beberapa peserta tidak mau berpartisipasi
2. Peserta tidak mengerti petunjuk yang diberikan
Apa ya penyebabnya? Bagaimana mencegahnya? Bagaimana mengatasinya?
Supaya kita semakin sukses dalam melakukan aktivitas team. Yuk kita bahas satu per satu.
“Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah.
Kisah Mahabrata atau tragedi dari Yunani.
Setiap kita dapat satu peranan yang harus kita mainkan…”
Demikian beberapa lirik awal lagu berjudul Panggung Sandiwara yang dinyanyikan Nicky Astria dan sempat populer di tahun 1980-an. Lalu, apa ya hubungan lagu ini dengan tulisan tentang organisasi?
Ternyata organisasi/tempat kerja kita itu juga ibarat panggung sandiwara.
Mari kita ulas satu per satu bagian dari sebuah panggung sandiwara yang identik dengan organisasi/tempat kerja ini.
Menyambung tulisan sebelumnya tentang Aplikasi Tahapan Konseling, ketika pelaksanaan konseling berlangsung, tidak jarang konselor kurang siap dengan proses konseling dan terperangkap oleh perilaku yang dapat membuat konseling menjadi destruktif. Bukannya konseli menjadi terbantu dengan proses konseling, namun perilaku konselor malah menghambatnya untuk mencapai pemecahan masalahya.
Setelah kita mengetahui Apa dan Bagaimana Konseling di tulisan sebelumnya, sekarang saatnya kita mengaplikasikannya. Ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan agar proses konseling terstruktur dan runtut. Dengan demikian dapat dilakukan penggalian masalah serta tindak lanjut yang perlu dilakukan konseli secara konstruktif.
Dalam dunia kerja maupun organisasi, kita kenal adanya konseling. Pihak yang memberikan konseling disebut konselor (counselor), sedangkan yang dikonseling disebut konseli. Konseling bukan saja tugas dari HRD atau pengelola SDM di organisasi. Setiap orang (pemimpin maupun anak buah) di organisasi/perusahaan dapat terlibat dalam proses konseling. Konseling, sederhananya diartikan proses penyelesaikan masalah secara personal.
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Aug | ||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
| 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 |
| 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 |
| 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 |
| 27 | 28 | 29 | 30 | |||