Inspire people to succeed
“Bu, saya dihipnotis lagi dong…”.
Demikian yang diucapkan salah satu peserta training, sewaktu saya mengakhiri sebuah sesi training di Pacet, Mojokerto. Kalimat ini menjadi kalimat yang sangat saya ingat, ketika saya melakukan sesi training terakhir di bulan Desember, sekaligus training terakhir menutup tahun 2009 kemarin.
Sebagian dari kita mungkin heran dengan kalimat tersebut. Sebagian lagi menganggapnya hal yang lumrah. Tapi bagi sebagian orang yang masih menganggap hipnotis dengan kesan yang buruk atau hanya merugikan pihak tertentu, jelas-jelas kalimat diatas bikin kita mencibir, ”…iiih kok mau sih dihipnotis?”
Lho, terus kenapa ya peserta tersebut meminta saya untuk menghipnotisnya?
Ada kata Hipnotis, ada juga Hipnosis. Sebelumnya, yuk kita clear-kan dulu, apa itu hipnotis dan hipnosis. Biar gak salah persepsi nih.
Are those your eyes, is that your smile
I’ve been looking at you forever
But I never saw you before
Are these your hands holding mine
Now I wonder how I could of been so blind
For the first time I am looking in your eyes
For the first time I’m seein’ who you are
I can’t believe how much I see
When you’re looking back at me
………
Cuplikan lagu yang pernah dinyanyikan Rod Steward diatas berjudul For The First Time. Keseluruhan lirik lagu ini sangat indah. Pesan yang ingin disampaikan lewat lagu ini diantaranya keajaiban yang dirasakan oleh orang yang ketika untuk pertama kalinya melihat siapa pujaan hatinya yang sesungguhnya.
Kalimat ”I go first” yang saya lihat di film Terminator Salvation, mengingatkan saya akan sesuatu. Ya, benar. Sekali lagi, ”I go first!”. Di film laga tersebut, kalimat ”I go first” diucapkan seorang wanita teman satu tim John Connor kepada Marcus Wright. Wanita itu memilih berjalan duluan melewati jalan yang penuh ranjau, saat melihat Marcus Wright nampak ragu-ragu.
Hmmm… apa yang saya ingat dengan kalimat ”I go first” ini ya? Yang akhirnya membuat ide untuk menulis dan membagikannya disini.
Kalimat ”I go first” ini mulai familiar bagi saya ketika mengikuti kelas training NLP beberapa bulan lalu. Lebih tepatnya, dalam training itu yang disebut adalah ”You Go First” yang mengingatkan seorang praktisi NLP untuk memulai melakukan aplikasi NLP pada dirinya sendiri sebelum meminta atau mengajak orang lain melakukannya. ”You” disini adalah kata ganti untuk praktisi NLP.
Di suatu hari Sabtu, waktu itu saya mengisi kelas untuk mata kuliah Psikologi Persepsi. Seperti kebanyakan, materi Psikologi Persepsi berisi tentang teori Gestalt, penyimpangan persepsi (ilusi dan halusinasi) dan tentu di awal materi selalu didahului dengan definisi dan proses terjadinya persepsi.
Anda tentu familiar dengan gambar berikut.
Cukup lama tidak menulis di www.inspiratio.web.id, hampir sepuluh hari lebih tidak memuat tulisan baru, ternyata menuai beberapa reaksi. Beberapa teman saya mengirim e-mail dan sms yang menanyakan kenapa saya cukup lama tidak menulis. Eeh ternyata.. dari beberapa reaksi tersebut, saya menemukan ada beberapa kategori reaksi, yang setelah saya pilah dan pilih akhirnya menjadi tiga kategori. Berikut ini reaksi yang muncul, dengan tulisan yang sudah di-edit untuk menghargai si pemberi komentar.
“Kok lama gak nulis lagi, sibuk ya?”
“Lagi sibuk apa sih sekarang? Kok mulai jarang nulis?”
“Jangan sibuk terus dong, ayo nulis lagi dan segera upload…”
Seringkali kita menganggap sesuatu terjadi dengan rumus “biasanya…”, “seharusnya..”.
Tidak jarang kita berbuat salah, dan ketika berbuat salah kita harus mengambil keputusan segera.
Kadang-kadang kita harus menerima resiko dari perbuatan salah kita dan mencoba ‘menikmati’ akibat yang ditimbulkannya.
Saya baru saja mengalami peristiwa yang menggambarkan fenomena diatas. Sebuah peristiwa yang bisa jadi tergolong sederhana. Tapi, dibalik kesederhanaannya, saya mendapat refleksi yang bisa saya bagikan. Sekaligus sebagai contoh dari beberapa presupposition NLP yang dikenal powerful.
Begini kejadiannya….
Apakah Anda pernah mendengar singkatan TEKTB? Buat saya, istilah ini baru saya kenal seminggu yang lalu, ketika mengikuti kelas Master Practitioner NLP Training. Istilah TEKTB ini dimunculkan oleh Bapak Akhmad Sungkar, seorang psikiater kenamaan di Surabaya, yang sama-sama menjadi peserta training. Oleh Bapak yang senior, suka berbagi ilmu dan banyak pengalaman ini, istilah TEKTB menjadi populer dalam kegiatan selama 5 hari ini. apa sih TEKTB itu? Bagaimana kita memanfaatkan TEKTB untuk kebaikan banyak orang? Yuk kita simak bersama.
Setelah tulisan sebelumnya tentang pacing-leading beserta contohnya dalam proses tawar-menawar, kali ini saya akan bagikan pengalaman mempraktikkan pacing-leading di area yang lain, yaitu wawancara. Saya mempraktikkan dan belajar untuk menerapkan pacing-leading dengan lebih baik di beberapa kesempatan wawancara, dalam contoh ini adalah wawancara selama proses assessment. Sekali lagi perlu diingat, tujuan melakukan pacing-leading adalah menjalin rapport. Berikut ini aplikasinya.
“1 kilo berapa Pak?”
“Yang besar-besar 10.000, yang agak kecil 9.000”
“Lho, kok hampir sama dengan harga di Hokky. (Hokky = nama toko buah di Surabaya) Di Hokky harganya 9.900, disini kok cuma beda 100 rupiah aja. Sebelumnya di Hokky harganya malah pernah 8.000 aja lho. Yang ini 8.000 juga ya Pak?”
Setengah beberapa obroloan “yes set”, akhirnya saya memperoleh jambu biji merah berukuran besar dengan harga 8.500, dengan catatan membelinya 2 kg. Meskipun sebelumnya saya diminta membeli 5 kg untuk bisa memperoleh harga yang saya ajukan.
Ketika mendengarkan teman yang sedang berbagi masalah, tidak jarang saya mengingatkan untuk berdamai dengan diri sendirinya. Sekali lagi : berdamai dengan diri sendiri. Ya, Anda tentu tidak asing dengan istilah ini. Meskipun terdengar sederhana, namun cara untuk mencapai kedamaian dengan diri sendiri tidaklah sesederhana menjentikan ibu jari dan jari tengah kita.
Soal berdamai dengan diri sendiri juga dipertanyakan oleh salah satu penonton acara Mario Teguh Golden Ways (MTGW) hari Minggu (04/01/09) kemarin.
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Aug | ||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
| 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 |
| 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 |
| 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 |
| 27 | 28 | 29 | 30 | |||