Cukup Bagiku, Hadirmu

Posted June 11th, 2016 by Anna

StarfishSeorang pria duduk dengan mata menerawang. Tampak jelas penyesalan ada di wajahnya. Penyesalaan bercampur dengan kesedihan yang mendalam. Sesekali matanya berkaca-kaca saat ia bercerita. Sesekali pula dia berusaha menahan emosinya. Dalam sekali tarikan napas, dia berusaha menunjukkan ketegarannya. Setelah sedikit tenang, dia kembali melanjutkan ungkapan hatinya. Ya, dia seorang pria. Pria, suami, ayah, kepala rumah tangga yang sedang sedih dan berbagi beban pikirannya.

Pria ini merasa berselingkuh. Dengan segenap keberanian dia mengakui perbuatannya. Menyesali kesalahan adalah tahapan berikut yang harus dilewati ketika ia mengharapkan keadaan yang lebih baik dalam rumah tangganya. Bagaimana awal kisah perselingkuhan ini dimulai?

Read more »

Mari Bicara

Posted April 5th, 2016 by Anna

DSC_7247edtDalam menjalin relasi, baik itu di organisasi, kelompok maupun keluarga, timbulnya masalah tidak dapat dihindari. Perbedaan pendapat, perbedaan karakter, salah persepsi, adalah sebagian dari sekian banyak alasan munculnya masalah interpersonal ini. Semakin banyak dan intens menjalin relasi, semakin banyak variasi masalah yang terjadi. Tidak berelasi pun menimbulkan masalah tersendiri bagi kita, bukan? Nah, ketika muncul masalah dalam bersosialisasi, mari kita bicara. Bicara dengan siapa saja ya?

Mari bicara dengan diri sendiri

Tanyakan kepada diri sendiri, apa yang salah dalam perkataan dan perbuatan saya. Bukan hanya ucapan lisan yang bisa menimbulkan salah persepsi. Bahkan intonasi pun sangat besar pengaruhnya dalam pesan yang diterima oleh lawan bicara kita.
Read more »

I feel good, I feel God

Posted March 30th, 2016 by Anna

DSC_6836Apakah saya pernah melihat Tuhan? Secara kasat mata, tidak pernah. Mungkin ada yang pernah melihatnya. Ada yang bersaksi melihat Tuhan berikut dengan pesan yang disampaikanNya. Ada juga yang bermimpi bertemu Tuhan dan kemudian bangun tidur dengan perasaan gembira. Saya belum pernah melihat Tuhan, namun saya bisa merasakan (kehadiran) Tuhan. Seperti apa ya rasanya?

Saat itu saya ditugaskan oleh atasan saya untuk menjadi team-leader sebuah kegiatan baru di kantor. Saya tidak percaya. Kenapa saya? Masih banyak rekan yang lebih senior dari saya. Saya bahkan baru beberapa bulan bergabung dalam tim. Namun atasan saya meyakinkan saya bahwa pasti bisa menjalankan tugas tersebut. Seperti si panda Po dalam film apik Kungfu Panda, saya tidak yakin dengan kemampuan saya. Namun ternyata ada yang melihat potensi saya. Dan dia percaya saya bisa. Tanpa bertanya “kenapa saya?” dua kali, saya pun menjalani dan akhirnya melewatinya. Saya pun merasakan kehadiran Tuhan. Dalam kepercayaan yang diberikan. Dalam pesan keberanian yang disampaikan kepada saya. Lewat kerjasama dari tim kerja yang men-support saya, saya merasakan semua kebaikan, saya merasakan kehadiran Tuhan. Iya benar, saya merasakan kehadiran Tuhan. Tuhan memberikan kepercayaan kepada umatNya, Tuhan menaruh potensi yang melebihi pikiran manusia.
Read more »

Andai Hidup Tanpa Koma

Posted March 23rd, 2016 by Anna

DSC_7362Pernahkah Anda membaca pesan tertulis, berita atau tulisan yang cukup panjang tanpa tanda koma (,)? Anda tentu membacanya terus menerus, bisa jadi sambil terengah-engah. Anda baru berhenti ketika menemukan tanda titik. Titik berarti selesai, berhenti. Dalam wikipedia, tanda titik dalam hal tipografi artinya full-stop.

Tanda koma menurut wikipedia, umumnya dipakai sebagai pemisah. Menurut Oxford English Dictionary, kata ini berasal dari bahasa Yunani: komma (κόμμα), yang berarti sesuatu yang dipotong atau klausa pendek. Ketika menemukan tanda koma dalam kalimat, kita akan berhenti sejenak. Bisa jadi hanya berhenti sedetik atau sepersekian detik, kemudian kita melanjutkan kalimat selanjutnya.

Jika kehidupan kita ibaratkan sebagai kalimat yang panjang, bahkan sangat panjang dan kalimat tersebut tanpa koma, seperti apa ya? Bayangkan kita menjalani rutinitas dan aktivitas sepanjang hari. Ini dilakukan terus menerus setiap minggu, setiap bulan, setiap tahun. Kita mengambil jeda hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis, yaitu tidur dan istirahat saja. Seminggu, sebulan, beberapa bulan dengan rutinitas seperti ini masih bisa kita jalani. Namun apakah kita sanggup menjalani rutinitas ini selama setahun, bahkan beberapa tahun?

Read more »

Menunggu Air Kotor Menjadi Air yang Bersih

Posted September 28th, 2015 by Anna

Suatu kala, seorang pemuda sedang berkelana bersama dengan gurunya ke suatu tempat yang cukup jauh. Perjalanan tersebut membutuhkan waktu berhari-hari. Karena mereka hanya berjalan kaki, mereka harus beristirahat jika sedang lelah atau mencari tempat menginap jika hari sudah menjelang malam.

Suatu hari, di tengah perjalanan, mereka berhenti untuk beristirahat dan melepas lelah. Mereka saat itu sedang berada di sebuah hutan. Sang guru meminta muridnya untuk mencari air minum. Pemuda itu kemudian pergi. Setelah mencari ke sana kemari, akhirnya ia berhasil menemukan sebuah sungai yang airnya cukup jernih. Maka ia pun menuju ke sungai tersebut untuk mengambil air minum.

Tapi sayang, ternyata ada beberapa wanita yang sedang mencuci pakaian di sungai tersebut. Tentu saja air sungai tersebut menjadi kotor dan tidak bisa di minum. Dalam hati ia berkata, “Airnya begitu kotor. Bagaimana mungkin saya memberi air ini pada guru?” Pemuda itu pun bergegas kembali menemui gurunya.

Pemuda itu berkata, “Guru, sebenarnya saya sudah menemukan sungai. Sayang, airnya tidak bisa diambil. Ada orang yang mencuci di sana sehingga airnya menjadi kotor.” Gurunya memberitahu pemuda itu, “Oh, begitu ya. Coba tunggu sebentar dan kemudian pergi ke sana lagi.” Tanpa bertanya, pemuda itu menuruti perintah gurunya yang terkenal bijaksana. Setelah beberapa saat, ia kembali ke sungai tersebut.

Read more »

Kisah Jeri dan Jera

Posted November 21st, 2014 by Anna

Kisah Jeri dan JeraDua anak jerapah, Jeri dan Jera, sedang berbincang di sebuah hutan. Mereka adalah anak-anak jerapah yang dilahirkan di sebuah hutan yang subur.

”Beruntung ya kita diciptakan dengan leher yang panjang seperti ini,” kata Jeri sambil makan dedaunan di dahan.

”Ah apanya yang beruntung?? Leher panjang begini malah bikin aku susah untuk minum. Air di danau ada di bawah, aku harus menundukkan leherku supaya bisa minum,” sahut Jera sedikit bersungut. Read more »

Sebelum Marah…

Posted June 24th, 2014 by Anna

marahSiang itu sebelum menyelesaikan makan siangnya, Dearson mengambil crayon. Awalnya dia mencorat-coret crayon di kertas putih. Sreeett…. crayon tergores sampai keluar batas kertas dan mencoret lantai berwarna putih. Lantaipun ada coretan berwarna hijau. Ahaa…bagus juga nih lantai bisa dicorat-coret, mungkin seperti itu yang ada dalam pikiran Dearson, yang membuat wajahnya tampak sumringah.

Saya memperhatikan aktivitas Dearson dan sempat menegurnya, ”Kalau mau corat coret pakai crayon di kertas ya, jangan di lantai”. Salah juga nih teguran saya, karena kata ’jangan’ yang saya pakai justru membuat Dearson makin asyik bereksperimen di lantai dengan crayonnya. Saya pikir gak apa-apa deh sesekali mencoret-coret lantai, toh gampang dibersihkan. Dibandingkan corat-coret di dinding kan susah hilangnya. Sesekali eksplorasi anak harus dibiarkan ’bebas’ dan sedikit out of box, karena dari situlah anak banyak belajar.

Read more »

Tukang Kunci

Posted May 23rd, 2014 by Anna

Suatu malam, seorang Ibu mengendarai mobilnya keluar perumahan. Ibu ini hendak ke apotek. Anak si Ibu sedang sakit, badannya panas dan menggigil. Ibu ini akan membelikan obat untuk sang anak. Jarak antara rumah dan apotek terdekat kira-kira empat kilometer jauhnya.

Saat di mobil, tiba-tiba handphone si Ibu ini berdering. Dari layar handphone terlihat nama si penelepon, yaitu pembantu yang sedang menjaga anaknya. ”Ibu… cepat Ibu… si Adek semakin panas badannya!!”. Mendengar laporan dari pembantunya, si Ibu tambah menaikkan kecepatan mobilnya, sampai akhirnya ia sampai di apotek yang dituju.

Read more »

Daun dan Kerendahan Hati

Posted September 19th, 2013 by Anna

Di pulau Madura hiduplah seorang Ibu yang sudah tua, dengan kondisi ekonomi yang minim. Ibu tua ini sehari-hari mencukupkan kebutuhannya dengan berjualan bunga. Beberapa bulan belakangan, Ibu tua ini setiap siang ketika waktu sholat dzuhur datang ke masjid Agung. Selesai menunaikan sholat di masjid, dia keluar dan memungut satu per satu daun daun yang jatuh di halaman masjid dan membuangnya di tempat sampah. Meskipun kelihatan lelah karena sangat terik dan harus membungkukkan badannya yang kurus, namun Ibu ini saja melakukannya. Kejadian ini sudah berlangsung sekitar satu minggu lamanya.

 

Pengurus masjid Agung memperhatikan apa yang dikerjakan Ibu tua tersebut. Mereka kasihan dan kemudian berunding bersama. Pengurus masjid memutuskan supaya petugas yang membersihkan halaman masjid menyapu halaman masjid sampai bersih sebelum Ibu tua itu datang. Ya, halaman masjid harus bersih sehingga tidak ada satu daun pun yang tercecer di halaman.

Read more »

Es Teh Kedua

Posted May 30th, 2013 by Anna

Suatu siang di hari minggu, dua bocah kecil kakak beradik sedang berdiri menunggu Ibu penjual makanan minuman melayani pelanggan lain. Si kakak laki dan adik perempuan itu sepertinya kelas 1 dan 3 SD. Semoga saja saya tidak salah menebak usia anak tersebut. Maklum, anak sekarang postur dan usianya terkadang sulit ditebak.

Tidak lama kemudian, tibalah saatnya si Ibu penjual melayani kakak beradik ini.

“Mau beli apa, Dek,” sapa si Ibu penjual.

“Beli es teh satu aja, Bu,” si Adik menjawab sembari menunjukkan uang dua ribu rupiah yang dipegangnya.

Dengan cekatan si Ibu membuatkan es teh yang dimasukkan ke dalam kantong plastik dengan sedotannya.

“Tadi nunggu agak lama ya, Dek… maklum lagi banyak yang beli siang ini,” sembari tersenyum si Ibu mengajak kakak beradik ini mengobrol. Kakak beradik ini tidak berekspresi apa-apa. Mereka hanya memperhatikan tangan si Ibu yang sedang menyiapkan es teh kedua. Sepertinya mereka benar-benar kehausan. Selesai sudah si Ibu membuatkan dua kantong es teh. Ketika hendak memberikan kantong es teh pertama, si Adik langsung memberikan selembar uang dua ribu rupiah kepada si Ibu.

Read more »