Inspire people to succeed
Pada suatu hari, seorang pengusaha jatuh miskin karena perusahaannya bangkrut akibat krisis ekonomi yang tengah melanda negaranya. Seisi rumah si pengusaha menderita karenanya. Mereka tidak lagi dapat hidup enak dan mewah seperti dulu. Kondisi telah berbalik 180 derajat. Suasana rumah tidak lagi hangat dan ceria. Wajah penghuni rumah selalu saja muram, lesu dan sesekali gurat-gurat kesedihan nampak jelas di wajah mereka.
Suatu sore, pengusaha dan ketiga anaknya pulang dari bepergian keluar rumah untuk menenangkan pikiran masing-masing. Sebelum masuk rumah, mereka sudah harap-harap cemas dan bertanya-tanya, makanan apa yang disediakan oleh Ibu mereka di meja makan.
Mereka memasuki rumah dengan berjalan perlahan-lahan. Sesampainya di ruang makan, alangkah terkejutnya mereka karena melihat di atas meja makan tersedia makan malam yang amat mewah dan lezat. Layaknya ada pesta besar saja. Melihat makan malam yang luar biasa, pengusaha itu memandang istrinya.
Sebagian besar dari kita pasti pernah membaca ilustrasi tentang angsa yang membentuk formasi V. Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari ilustrasi ini, dan salah satu pointnya adalah tentang pendelegasian. Yuk mari kita refresh lagi ilustrasi tentang angsa dan formasi V tersebut.
Salah satu yang menarik setiap tahun pada musim semi dan musim gugur adalah melihat angsa Kanada terbang melintas kawasan pepohonan di South Jersey. Pecinta alam suka mengamati burung angsa itu, dan mereka memperoleh temuan yagn mengagumkan. Salah satunya, mereka mengetahui bahwa angsa-angsa Kanada itu menggilir kepempimpinan ketika terbang dalam formasi V. Setiap sekitar duabelas menit, angsa terdepan mundur dan membiarkan angsa baru mengambil posisi memimpin.
Read the rest of this entry »
Judul tulisan ini adalah tagline iklan salah satu produk customer goods. Tentu kita semua masih ingat kan? Tagline ini cukup mengena dan sempat menjadi top of mind bagi pemirsa maupun pembaca pada waktu itu. Tagline ini juga menjadi jargon yang sering diucapkan di berbagai acara, bahkan sampai dengan diplesetkan menjadi sebuah jargon yang jenaka.
Di dunia komunikasi dan hubungan interpersonal, dikatakan bahwa kesan pertama adalah dua menit pertama yang diperhitungkan. It is the first two minutes that counts. Benarkah? Read the rest of this entry »
Alam semesta ternyata banyak memberikan kita pembelajaran. Mencermati pola-pola dan hukum yang terjadi di alam ini, membuat kita dapat mengambil makna kehidupan yang penting untuk pengembangan diri kita sendiri maupun orang lain. Tidak heran jika sekarang banyak berkembang ilmu-ilmu baru yang semuanya bermuara pada back to basic, back to nature, back to the essentials.
Berikut ini Tujuh Hukum Alam Semesta yang penting untuk kita ketahui, disarikan dari salah satu bab dari buku The Eureka Principle karangan Colin Turner (pengarang buku bestseller Born to Succeed)
Read the rest of this entry »
Dalam sebuah kesempatan seminar Himpunan Pengelola SDM Indonesia (HPSMI) tanggal 21 Mei 2008 oleh Bapak Widyarto Adi PS (Pudisklat Kelompok Kompas-Gramedia, Jakarta) dengan topik “Enhancing Motivation Training: Basic Mentality – Explore Your Own Excellence”, saya tertarik dengan istilah “Seven Year Itch”. Pembahasan Pak Wid (demikian sapaan akrab untuk beliau) soal “Seven Year Itch” bahwa ada kecenderungan produktivitas berubah (menurun) setelah karyawan bekerja 7 tahun.
Sekilas Pak Wid juga menceritakan asal muasal istilah ”Seven Year Itch”. Kemudian saya telusuri beberapa situs untuk memperdalam lagi apa itu fenomena “Seven Year Itch”. Read the rest of this entry »
Tentu Anda tidak asing dengan kata “betul” yang diucapkan sebanyak tiga kali oleh seorang tokoh kartun bocah kecil dengan nada suara yang jenaka. Upps! Kok tiba-tiba jadi tertarik dengan kartun ya? Semuanya berawal dari rasa penasaran saya dengan celotehan anak kecil, pajangan tokoh kartun di banyak toko dan perempatan jalan, atau tulisan di situs jejaring sosial yang mengatakan “betul…betul…betul…”. Jadi kepingin tahu, kok laris manis ya kata “betul…betul…betul…” ini.. hmm siapa sih yang mengucapkannya? Seperti apa kartunnya?
Kata “Betul…betul…betul…” adalah kata yang diucapkan oleh tokoh kartun itu bernama Ipin. Dia adalah saudara kembar Upin, dalam kartun Upin & Ipin (dan kawan-kawan), yang disiarkan di TV9, TPI dan Disney Channel (www.upindanipin.com.my). Serial kartun bernuansa Islami yang diproduksi negara tetangga, Malaysia. Cerita kartun yang menggambarkan dunia khas anak-anak lengkap dengan keusilan, kenakalan, perbuatan baik, nasihat dan moral cerita yang layak ditonton oleh anak-anak ini, selalu identik dengan kata “betul…betul…betul…”.
Read the rest of this entry »
Sore itu saya sedang berbincang-bincang soal training dengan seorang rekan yang juga berprofesi sebagai trainer. Usianya masih tergolong muda, terlebih karena usianya memang lebih muda dari saya beberapa tahun. Eh, kalau saya sih menganggap usia saya masih muda lho… ukurannya sih dari teori tahap perkembangan usia 21-35 tahun adalah Dewasa Awal (ada juga teori yang mengatakan usia 18-35 tahun), setelah melewati usia Remaja dan sebelum masuk ke tahap Dewasa.
“Jadi trainer seumur kita ini susah susah gampang ya?” demikian rekan saya, sebut saja bernama Dimas, memulai sharingnya. “Pernah suatu saat, waktu aku ngasi training di sebuah perusahaan, dan ketika ditanya berapa umurku sekarang, si pimpinan perusahaan itu terheran-heran. Kemudian setelah dia tahu umurku, dan aku baca body languagenya serta melakukan kalibrasi, keliatan deh kalau dia mulai kurang antusias. Padahal sebelum dia tanya soal umur, dia semangat lho menyimak training. Emang ada hubungannya ya antara usia muda dengan keyalakan menjadi trainer?”
Read the rest of this entry »
Satu kantong plastik berisi kerang yang masih hidup siap untuk dimasak. Beberapa dari kerang itu berteriak, “Uuuh, mau diapakan sih kita ini? Tadi kan kita sedang asyik berjemur di pantai, kemudian kita diambil oleh nelayan. Dan sekarang kita sudah ada di tangan seorang ibu. Wah, perjalanan kita sehari ini sudah melewati tiga tempat yang berbeda”. Kerang lain menjawab, “Yah kita sudah bisa menebak kan akan seperti apa nasib kita jika kita sudah ditangkap oleh nelayan dan dijual. Tidak lama lagi kita menjadi santapan manusia. Oooh, nasib.. ya nasib”.
Suatu hari, seorang wanita muda datang ke seorang konselor. Wanita itu tidak sanggup lagi menghadapi cobaan yang ia hadapi. Ia menceritakan semua beban masalahnya, berharap si konselor dapat membantunya memecahkan masalah yang menghantuinya saat ini.
Singkat cerita, masalah yang dialami wanita muda itu adalah intimidasi, teror dan tekanan yang ia terima, baik melalui sms, e-mail maupun telpon. Suami wanita muda itu baru saja memecat sekretarisnya, karena terbukti melakukan penggelapan uang kantor. Selama ini si sekretaris dianggap jujur dan dapat diandalkan, namun karena terbukti melakukan kesalahan yang dikategorikan pelanggaran berat di kantornya, akhirnya PHK adalah satu-satunya pilihan untuk memberikan punishment. Si sekretaris ini tidak bisa melawan ketika vonis PHK menghampirinya. Namun, karena masih dendam dan tidak menyangka kalau atasannya akan bertindak tegas dan langsung mem-PHK, kemudian ia melakukan teror kepada istri atasannya.
“Bu, saya dihipnotis lagi dong…”.
Demikian yang diucapkan salah satu peserta training, sewaktu saya mengakhiri sebuah sesi training di Pacet, Mojokerto. Kalimat ini menjadi kalimat yang sangat saya ingat, ketika saya melakukan sesi training terakhir di bulan Desember, sekaligus training terakhir menutup tahun 2009 kemarin.
Sebagian dari kita mungkin heran dengan kalimat tersebut. Sebagian lagi menganggapnya hal yang lumrah. Tapi bagi sebagian orang yang masih menganggap hipnotis dengan kesan yang buruk atau hanya merugikan pihak tertentu, jelas-jelas kalimat diatas bikin kita mencibir, ”…iiih kok mau sih dihipnotis?”
Lho, terus kenapa ya peserta tersebut meminta saya untuk menghipnotisnya?
Ada kata Hipnotis, ada juga Hipnosis. Sebelumnya, yuk kita clear-kan dulu, apa itu hipnotis dan hipnosis. Biar gak salah persepsi nih.
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Aug | ||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
| 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 |
| 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 |
| 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 |
| 27 | 28 | 29 | 30 | |||